Ilustrasi - - Foto: MI/ Sumaryanto
Ilustrasi - - Foto: MI/ Sumaryanto

Mampukah RI Bayar Utang Capai Rp5.940 Triliun?

Ekonomi Bank Dunia utang luar negeri surat utang Kementerian Keuangan
Eko Nordiansyah • 15 Oktober 2020 13:41
Jakarta: Bank Dunia merilis utang Indonesia pada akhir 2019 sebesar USD402,08 miliar atau sekitar Rp5.940 triliun (kurs Rp 14.775). Meski masuk sebagai 10 besar negara dengan utang terbesar, Indonesia diklaim tetap aman lantaran pengelolaan utang yang terkendali.
 
Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Kebijakan Fiskal dan Makroekonomi Masyita Crystallin menjelaskan kebijakan utang tidak dapat dilihat sebagai sebuah kebijakan yang berdiri sendiri. Menurutnya, negara yang sedang membangun memiliki nilai investasi lebih tinggi dari tingkatsaving-nya atauSaving-Investment Deficit.
 
"Dalam hal ini perbedaannya ditutup dengan utang luar negeri. Sepanjang return terhadap investasi tersebut lebih tinggi dibandingkan biaya bunga, maka sebuah negara akan mampu membayar kembali," katanya dalam keterangan yang diterimaMedcom.id, Kamis, 15 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan utang luar negeri sebelum pandemi digunakan untuk membiayai proyek-proyek strategis dengan tujuan untuk meningkatkan dan memeratakan pertumbuhan di seluruh pelosok. Reformasi struktural ekonomi ini dilakukan untuk memperkuat ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
 
"Namun, sustainability utang luar negeri perlu dijaga, dan ini bergantung pada kemampuan membayar lagi, potensi penerimaan dalam negeri dan potensi pertumbuhan ekonomi. Selain itu ada pula pertimbangan yang lebih mengarah ke debt management," jelas dia.

 
Selain itu, Masyita mengatakan dari keseluruhan jumlah utang luar negeri Indonesia sebagian besar, yaitu 88,4 persen merupakan utang jangka panjang. Hal ini, lanjut dia, membuat risiko fiskal Indonesia dalam jangka panjang juga masih terjaga karena beberapa alasan.
 
Pertama, porsi utang valas yaitu 29 persen per 31 Agustus 2020 yang masih terjaga sehingga risiko nilai tukar lebih bisa dikelola dengan baik (manageable). Kedua, profil jatuh tempo utang juga cukup aman denganaverage time maturity(ATM) 8,6 tahun per Agustus 2020 meningkat dari 8,4 tahun dan 8,5 tahun di 2018 dan 2019.
 
"Untuk memitigasi risiko fiskal, terutama pada portofolio utang, kita juga melakukannya strategi aktif meliputibuyback, debt switch, dan konversi pinjaman. Selain itu, secara umum tetap dilakukan manajemen yang baik terhadap waktu jatuh tempo dan pendalaman pasar keuangan," pungkasnya.
 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif