<i>Tax Holiday</i> tak Bisa jadi Solusi Tunggal
Ilustrasi industri tekstil. (Foto: Antara/Aloysius).
Yogyakarta: Kebijakan tax holiday yang selama ini menjadi insentif dalam dunia usaha tak bisa menjadi solusi tunggal dalam memecahkan persoalan industri yang terdiri dari berbagai sektor.  Hal ini karena setiap industri memiliki persoalan yang berbeda-beda.

Ekonom Raden Pardede mencontohkan industri tekstil lebih membutuhkan akses modal dan energi yang lebih murah ketimbang tax holiday. Akses permodalan yang ramah serta kebutuhan energi listrik seperti lebih bermanfaat ketimbang tax holiday.

"Setiap industri beda-beda. Kita kasih resep yang sesuai dengan penyakit masing-masing dan road map untuk apa dari seluruh itu. Tak semua itu bisa diterapkan," jelas dia di Yogyakarta, Senin, 7 Mei 2018.

Kemudian mengenai persoalan di industri makanan dan minuman maka yang dicari adalah persoalan di Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) atau peraturan yang belum terintegrasi. Dia ingin menegaskan bahwa setiap industri harus mengeluarkan permasalahannya untuk kemudian dicari solusinya lewat kebijakan pemerintah.

"Jadi nanti bentuknya langsung. Saya akan tanya berapa ekspornya. Oke saya kasih insentif langsung, kamu tahun depan bisa tambah berapa? Saya cek lagi tahun depan kamu tumbuh 25 persen saya tambah lagi. Kalau kamu bisa tambah ekspor yang job creation-nya tinggi akan sangat bagus sekali. Devisa dapat, job dapat. Job bikin orang bekerja. Revenue dari perusahaan naik devisa naik, profit naik maka pajak akan naik," jelas dia.

Dia menambahkan bahwa orang yang bekerja akan membelanjakan barangnya. Hal itu akan memutar roda ekonomi. Insentif yang akan mendorong kenaikan pendapatan secara otomatis akan mendorong penerimaan pajak. "Menurut saya harus tepat diagnosa masalahnya diberikan obat sesuai masalahnya. Jadi enggak bisa satu 'tongkat ajaib' untuk semua," jelas dia.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id