Defisit Neraca Perdagangan Bisa Mengurangi Imunitas Rupiah
Ilustrasi. (FOTO: AFP)
Jakarta: Besarnya tekanan global kian mendorong pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Meski fundamental ekonomi tergolong kuat, namun neraca perdagangan yang mengalami defisit USD1,31 miliar sepanjang Januari-April 2018, berpotensi mengurangi kekuatan fundamental ekonomi dalam menopang nilai tukar.

"Secara keseluruhan fundamental ekonomi Indonesia tidak jelek. Namun kita harus melihat bahwa neraca perdagangan yang mengalami defisit year to date (Januari-April 2018). Jika defisit neraca perdagangan berlanjut dan persisten, itu bisa mengurangi kekuatan fundamental ekonomi," tutur pengamat ekonomi dari Asian Development Bank (ADB) Institute Eric Sugandi saat dihubungi, Rabu, 23 Mei 2018.

Terjadinya defisit neraca perdagangan disebabkan besarnya kenaikan impor yang didominasi bahan baku atau golongan dan barang modal. Kondisi tersebut juga dipengaruhi melambungnya harga komoditas strategis, termasuk harga minyak dunia. Tidak dapat dipungkiri faktor eksternal terutama menguatnya mata uang Negeri Paman Sam, menjadi salah satu biang keladi dari pelemahan rupiah yang saat ini hampir menyentuh Rp 14.200 per USD.

Eric menambahkan menguatnya dolar AS dipengaruhi tren kenaikan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS (US Treasury). Rentannya rupiah terhadap faktor eksternal pun dipengaruhi besarnya porsi kepemilikan asing dalam Surat Berharga Negara dan pasar saham. Alhasil ketika terjadi arus modal keluar (capital outflow), rupiah kemudian mengalami tekanan.

Pihaknya memproyeksikan pelemahan rupiah masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan di level Rp 14.050-14.250 per USD. Menyoroti serangkaian kebijakan Bank Indonesia dalam menstabilkan nilai tukar, khususnya kenaikan suku bunga acuan (BI 7-Day Reserve Repo Rate/7DRRR), dikatakannya tidak terlambat.

Menurut Eric, tekanan eksternal yang begitu kuat mengakibatkan kebijakan tersebut kurang berdampak untuk memperkuat rupiah. Sebelumnya, Bank Sentral juga telah melakukan intervensi dengan menyuntikkan cadangan devisa untuk menahan gejolak nilai tukar.

"Saya pikir bukan berarti Bank Indonesia telat bereaksi. Tapi karena yang dihadapi tekanan eksternal yang kuat, maka yang bisa dilakukan oleh Bank Indonesia adalah "buying time" sambil menunggu kondisi eksternal membaik," imbuh Eric.

Kenaikan BI 7DRRR sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,50 persen, dapat memberikan sinyal bagi pasar finansial bahwa Bank Sentral dapat kembali menaikkan suku bunga acuan apabila diperlukan. Apalagi besaran kenaikan BI 7DRRR relatif kecil. Dia menekankan Bank Indonesia harus melakukan intervensi terukur di pasar valuta asing dengan menaikkan BI 7DRRR total sekitar 50-75 bps sepanjang 2018. Dalam hal ini, dia mengingatkan Bank Indonesia untuk memberikan dosis yang pas dalam menaikkan suku bunga acuan.

"Bank Indonesia bisa naikkan BI 7DRRR lagi sebesar 25 bps di Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan depan. Ini untuk melihat lagi sejauh mana respon pasar. Tapi saya pikir Bank Indonesia jangan menaikkan suku bunga terlalu banyak tahun ini. Cukup 50-75 bps saja totalnya ya. Itu kalau memang mau naik lagi," pungkas dia.

Di satu sisi, Eric memandang kenaikan suku bunga acuan yang terlalu besar berpotensi menghambat laju pertumbuhan kredit. Pasalnya, permintaan (demand) kredit dari korporasi diyakini akan melemah lantaran tingkat suku bunga pinjaman di perbankan naik. Pun, perbankan kemungkinan besar akan mengalokasikan lebih banyak dana ke SBN, mengingat kenaikan BI 7DRRR mendorong meningkatkan imbal hasil (yield) SBN. Tahun ini, pertumbuan kredit diproyeksikan sebesar 11-12 persen.

"Namun perlu diingat juga bahwa "demand" untuk kredit dari perusahaan tumbuh melambat karena konsumsi masyarakat tertekan oleh pelemahan daya beli. Jika pelemahan rupiah ini persisten, tekanan "imported inflation" dapat semakin menggerus daya beli masyarakat. Sehingga, kembali lagi "demand" kredit perbankan oleh perusahaan bisa melemah," tutupnya.



(AHL)