Butuh Reformasi Struktural untuk Tahan Pelemahan Rupiah

Eko Nordiansyah 12 Juli 2018 20:44 WIB
rupiah melemahdbs indonesia
Butuh Reformasi Struktural untuk Tahan Pelemahan Rupiah
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)
Singapura: DBS Group memperkirakan rupiah sampai dengan akhir tahun akan melemah ke level Rp14.600 per dolar Amerika Serikat (USD). Pelemahan rupiah disebabkan oleh penguatan dolar AS yang terjadi terhadap seluruh mata uang di dunia.

Head Group Research Indonesia DBS Maynard Arif menjelaskan butuh reformasi struktural untuk membantu rupiah kembali menguat. Selama ini instrumen moneter dari Bank Indonesia (BI) banyak digunakan untuk membantu rupiah bertahan dari penguatan AS.

"Sebetulnya kalau kita lihat, untuk mengatasi pelemahan rupiah bukan hanya fiskal dan moneter, tapi adanya perubahan struktural," kata dia di DBS Marina Bay Financial Centre, Singapura, Kamis, 12 Juli 2018.

Dirinya menambahkan, perubahan struktural bisa dilakukan dengan mengurangi defisit transaksi berjalan (CAD). Upaya adalah bagaimana pemerintah bisa mendorong ekspor di saat bersamaan mengurangi ketergantungan impor.

"Secara garis besar, bagaimana sih cara mengubah biar rupiah tidak terlalu jelek, kita jangan bergantung pendanaan dari luar lagi. Dalam arti kata, ekspor ditingkatkan, bagaimana kita jadi nett eksportir bukan hanya nett importir," jelas dia.

Namun demikian, tak mudah bagi pemerintah maupun BI untuk membuat rupiah kembali menguat dalam waktu dekat. Apalagi pelemahan rupiah lebih disebabkan oleh faktor eksternal yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah maupun bank sentral.

"Menurut kita, jangka pendek agak berat untuk mencari solusi yang dampaknya besar sehingga rupiah menguat. Karena ruangannya enggak banyak, paling mengurangi impor, itu yang bisa kita jaga. Dan dari sisi fiskal juga kita masih budget defisit, bagaimana mengurangi defisit itu," pungkasnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id