"Kami perkirakan untuk 2018 ini defisit transaksi berjalan kurang lebih 2,5 persen dari PDB. Tahun depan diperkirakan mungkin akan bisa turun sekitar dua persen," ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 5 September 2018.
Bank Sentral dan pemerintah melakukan beberapa langkah agar kondisi defisit transaksi berjalan tidak terus melebar. Di antaranya dengan mengeluarkan kebijakan bahan bakar campuran minyak sawit sebesar 20 persen (B20).
Menurut Perry, kebijakan B20 bakal mengurangi impor minyak selama September-Desember 2018 sehingga mampu menghemat devisa sebanyak USD2,2 miliar. Di tahun depan, penghematannya bakal mencapai sebesar USD6,6 miliar.
"Itu juga bisa menaikkan ekspor kelapa sawit kurang lebih sekitar USD5 miliar. Sehingga tahun depan itu ada tambahan devisa dari penurunan impor minyak maupun tambahan ekspor itu kurang lebih USD9 miliar sampai USD10 miliar yang ini akan menurunkan defisit transaksi berjalan," bebernya.
Langkah lainnya, otoritas mendukung upaya pemerintah dalam mendongkrak kunjungan turis asing ke Indonesia. Melalui pelebaran penambahan anjungan di Bali, Perry yakin turis asing yang berkunjung ke RI pada tahun depan sebanyak tiga juta orang atau menambah devisa sebanyak USD3 miliar.
Kemudian beroperasinya Bandara New Yogyakarta International Airport pada Maret-April 2019 juga bakal meningkatkan kunjungan turis asing ke RI. Perry memproyeksi beroperasinya bandara tersebut mampu menambah 400 ribu kunjungan wisata mancanegara (wisman) ke Indonesia dan menambah devisa sebesar USD400 juta.
"Langkah lain masalah PPh impor dan pembatasan sejumlah proyek yang memang belum financial closing yang punya kandungan impor tinggi itu kemudian akan ditunda supaya kebutuhan devisa ditunda beberapa tahun ke depan. Sehingga kami meyakini untuk 2019 itu defisit transaksi berjalan akan menurun secara signifikan dan bisa mendukung stabilitas nilai tukar ke depannya," pungkas Perry.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News