Menkeu: Keputusan APBNP 2018 Tunggu Laporan Semester Pertama
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan keputusan pengajuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) masih menunggu penyampaian laporan realisasi APBN semester I-2018 pada akhir Juni kepada Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

"Kita akan sampaikan laporan semester kepada DPR, begitu Juni ini habis," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Selasa, 26 Juni 2018.

Melalui laporan realisasi tersebut, tambah Ani, sapaan akrabnya, pemerintah bisa mengukur kinerja pelaksanaan dan kondisi daya tahan APBN hingga akhir tahun. Meski demikian, baik kinerja pelaksanaan APBN maupun keputusan untuk pengajuan APBNPerubahan ini sangat bergantung dari perkembangan kondisi ekonomi makro terkini.

Dalam APBN 2018, pemerintah telah menetapkan asumsi ekonomi makro yaitu pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, laju inflasi 3,5 persen, dan tingkat bunga SPN 3 bulan 5,2 persen. Kemudian, nilai tukar rupiah terhadap USD Rp13.400, harga minyak ICP USD48 per barel, lifting minyak 800 ribu barel per hari, dan lifting gas 1.200 ribu barel setara minyak per hari.

Perkembangan asumsi ekonomi makro hingga akhir Mei 2018 antara lain pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen atau sama dengan realisasi pada triwulan I-2018. Laju inflasi tercatat secara kumulatif sebesar 1,67 persen dan (year on year) 3,23 persen, karena harga pangan yang relatif terkendali, terutama menjelang periode Idulfitri.    



Pergerakan nilai tukar yang mengalami volatilitas cukup tinggi di awal 2018 telah menyebabkan rata-rata kurs rupiah hingga 31 Mei 2018 berada pada kisaran Rp13.714 per USD. Rata-rata suku bunga SPN tiga bulan tercatat 4,23 persen, yang didukung oleh kebijakan front loading, peningkatan intensitas penerbitan SUN, dan solidnya kondisi pemodal domestik.

Sedangkan rata-rata harga ICP minyak pada Januari hingga Mei 2018 tercatat sebesar USD65,8 per barel, karena tren harga minyak mentah dunia yang terus meningkat. Pergerakan harga minyak dalam periode ini cukup tinggi dibandingkan dengan harga rata-rata pada periode sama di 2017 sebesar USD50 per barel.      

Meski demikian, peningkatan harga minyak ini diperkirakan dapat memberikan dampak positif terhadap pendapatan negara dari sisi penerimaan negara bukan pajak. Sementara itu, lifting minyak pada Januari hingga April 2018 rata-rata berada berkisar 742 ribu barel per hari dan lifting gas rata-rata 1.138 ribu barel setara minyak per hari.

Lifting minyak dan gas yang berada di bawah asumsi ini  menjadi salah satu penyebab terjadi defisit neraca perdagangan di sektor migas pada periode awal 2018.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id