Kementerian PPN/Bappenas resmi meluncurkan IMM 2025 sekaligus pedoman penghitungannya. Indeks ini kini masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan menjadi salah satu indikator utama pembangunan nasional, menggantikan posisi Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
| Baca juga: Bappenas Gandeng UK Maranatha Bangun Pusat Riset Moringa, Dukung Percepatan Penurunan Stunting |
Hasil pengukuran perdana menunjukkan IMM Indonesia pada 2025 berada di angka 0,562.
Dengan hasil ini sederhananya, anak-anak yang lahir di Indonesia saat ini diperkirakan ketika dewasa nanti baru mampu mencapai sekitar 56% dari potensi produktivitas maksimalnya, jika dibandingkan dengan kondisi ideal dalam indikator modal manusia.
Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, mengatakan angka tersebut menunjukkan masih ada ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
"Ini menggambarkan bahwa masih banyak potensi yang perlu dikembangkan. Ada sekitar hampir 44 persen yang belum dimanfaatkan," kata Pungkas dikutip dari Infopublik.
Jadi, angka 0,562 bukan berarti 56% orang Indonesia produktif. Angka ini lebih menggambarkan seberapa besar potensi produktivitas generasi mendatang yang diperkirakan bisa dicapai berdasarkan kondisi pendidikan, kesehatan, dan gizi saat ini.
Kenapa Pemerintah Mengganti IPM?
Selama ini, masyarakat cukup familiar dengan IPM. Namun, Bappenas menilai dibutuhkan ukuran yang bisa melihat pembangunan manusia secara lebih jauh.Kalau IPM lebih banyak menggambarkan capaian pembangunan manusia saat ini, IMM dirancang untuk melihat potensi produktivitas manusia di masa depan.
Perbedaannya juga ada pada cara mengukur pendidikan. IMM tidak hanya bertanya, "Berapa banyak anak yang sekolah?". Indeks ini juga melihat seberapa berkualitas pembelajaran yang diterima.
Artinya, sekadar bersekolah belum cukup. Pemerintah juga perlu memastikan anak-anak benar-benar mendapatkan kemampuan yang dibutuhkan untuk berkembang dan masuk ke dunia kerja nantinya.
"Kalau sekarang misalnya sudah mengukur prevalensi sekaligus nilai kualitas pembelajaran. Sehingga pendidikan tidak hanya dinilai dari coverage (cakupan), tapi juga kualitas pembelajaran," jelas Pungkas.
IMM mengukur modal manusia melalui tiga aspek utama, yaitu:
1. Pendidikan
Bukan hanya soal berapa lama anak bersekolah, tetapi juga kualitas pembelajaran yang mereka dapatkan.
2. Kesehatan
Kondisi kesehatan menjadi faktor penting karena manusia yang sehat memiliki peluang lebih besar untuk belajar, bekerja, dan menjadi produktif.
3. Gizi
Kecukupan gizi sejak awal kehidupan ikut menentukan perkembangan fisik dan kemampuan manusia dalam jangka panjang.
Dengan pendekatan tersebut, pemerintah ingin mendapatkan gambaran yang lebih komplet mengenai kualitas generasi Indonesia.
Targetnya 0,73 pada 2045
Pemerintah memasang target cukup ambisius. Pada 2045, bertepatan dengan target Indonesia Emas 2045, IMM Indonesia diharapkan bisa mencapai 0,73.Angka tersebut mengacu pada rata-rata indeks modal manusia negara-negara maju saat ini. Kalau target ini tercapai, artinya potensi produktivitas generasi Indonesia di masa depan diharapkan semakin mendekati level negara maju.
IMM Indonesia merupakan adaptasi dari Human Capital Index (HCI) milik Bank Dunia. Namun, Bappenas menyesuaikannya dengan kondisi data dan kebutuhan pembangunan Indonesia.
Penyusunan metodologinya melibatkan berbagai pihak, mulai dari kementerian dan lembaga pemerintah, BPS, akademisi, BPJS Kesehatan, hingga Bank Dunia.
Dengan begitu, IMM diharapkan bukan sekadar menjadi angka yang muncul setiap tahun, tetapi bisa dipakai pemerintah untuk menentukan kebijakan.
IMM kini sudah masuk ke dalam instrumen perencanaan pembangunan nasional. Karena itu, pemerintah daerah juga diminta menerjemahkan indikator tersebut ke dalam RPJMD, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
" Pemerintah daerah juga perlu menerjemahkan dan harus menerjemahkan (IMM) ke dalam RPJMD baik di tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota," tegas Pungkas.
Bappenas juga menyampaikan apresiasi kepada pihak yang terlibat dalam pengembangan IMM, termasuk Tanoto Foundation, INOVASI, Bank Dunia, serta BPS yang melakukan pengukuran berdasarkan survei.
IMM 0,562 menjadi semacam "rapor awal" kualitas modal manusia Indonesia. Angkanya memang belum tinggi, tetapi justru menunjukkan pekerjaan rumah yang masih besar mulai dari meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki kesehatan, sampai memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi. Karena pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan cuma soal seberapa besar ekonominya, tetapi juga seberapa siap manusianya.