Ekspor. Foto: MI.
Ekspor. Foto: MI.

Surplus Perdagangan Indonesia Mulai Tertekan

Arif Wicaksono • 06 April 2026 09:34
Ringkasnya gini..
  • Secara bulanan, surplus tercatat sebesar USD1,27 miliar dengan akumulasi USD2,23 miliar. Angka ini memang masih mencerminkan posisi eksternal yang positif, tetapi laju pertumbuhannya mulai kehilangan tenaga.
  • Di sisi lain, struktur ekspor Indonesia mulai menunjukkan arah perubahan, meski belum cukup kuat untuk menopang kinerja secara keseluruhan.
Jakarta: Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai kinerja neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2026 masih berada di zona surplus, namun tekanan struktural kian terlihat.
 
Secara bulanan, surplus tercatat sebesar USD1,27 miliar dengan akumulasi USD2,23 miliar. Angka ini memang masih mencerminkan posisi eksternal yang positif, tetapi laju pertumbuhannya mulai kehilangan tenaga. 
 
Baca juga: Hubungan Dagang RI–AS Masih Diselimuti Ketidakpastian, Surplus Berpotensi Menyusut 

“Hal ini terlihat dari impor yang melonjak 10,85% secara tahunan, jauh melampaui pertumbuhan ekspor yang hanya naik tipis 1,01%. Kondisi tersebut mengindikasikan kuatnya permintaan domestik, sekaligus memperlihatkan ketergantungan yang belum surut terhadap barang impor, terutama energi,” tegas dia. 
 
Di sisi lain, struktur ekspor Indonesia mulai menunjukkan arah perubahan, meski belum cukup kuat untuk menopang kinerja secara keseluruhan. 

Produk-produk hilir seperti nikel dan minyak kelapa sawit (CPO) masih menjadi penopang, bahkan ekspor bernilai tambah mencatat pertumbuhan signifikan, nikel melonjak 56% dan kendaraan bermotor naik 26,2%. Ini mencerminkan awal transformasi menuju industrialisasi yang lebih dalam.
 
Namun, perbaikan tersebut tertahan oleh pelemahan pada komoditas energi. Ekspor bahan bakar mineral turun 13,71%, sementara sektor minyak dan gas terus mengalami tekanan. 
 
Artinya, pergeseran menuju produk setengah jadi dan manufaktur belum sepenuhnya mampu mengimbangi volatilitas harga komoditas global. Risiko eksternal juga membayangi, terutama dengan meningkatnya potensi stagflasi di negara mitra utama seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, yang dapat menekan permintaan ekspor dalam jangka pendek.
 
Dari sisi impor, lonjakan yang terjadi mencerminkan adanya pemulihan aktivitas ekonomi domestik, terutama didorong oleh kenaikan impor barang modal sebesar 33,7%. Meski demikian, kondisi ini juga membawa konsekuensi berupa menyusutnya bantalan surplus perdagangan. Risiko terbesar datang dari impor energi yang sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Risiko kenaikan harga minyak 

Perhitungan internal menunjukkan setiap kenaikan harga minyak sebesar USD10 per barel berpotensi menambah nilai impor hingga USD0,3–0,5 miliar per bulan. 
 
Dampaknya, sekitar 25–40% surplus perdagangan bisa tergerus. Dalam skenario yang lebih ekstrem, kenaikan harga minyak hingga USD20 per barel disertai pelemahan ekspor, neraca perdagangan bahkan berpotensi mendekati titik impas atau berbalik menjadi defisit ringan di kisaran USD0,2 hingga USD0,5 miliar.
 
Ke depan, arah neraca perdagangan Indonesia akan sangat ditentukan oleh dinamika harga energi global, kekuatan permintaan dari negara mitra dagang, serta efektivitas kebijakan hilirisasi di dalam negeri. Dalam skenario dasar, surplus masih berpeluang bertahan di kisaran USD1–2 miliar per bulan, selama tidak terjadi guncangan besar pada harga komoditas.
 
Namun, risiko penurunan tetap terbuka lebar. Lonjakan harga minyak, meningkatnya proteksionisme global, serta pelemahan permintaan dunia dapat dengan cepat mengikis surplus yang ada. Oleh karena itu, fokus kebijakan perlu diarahkan pada pengurangan ketergantungan terhadap impor energi, perluasan pasar ekspor, serta percepatan pengembangan produk bernilai tambah.
 
Tanpa langkah-langkah tersebut, neraca perdagangan Indonesia akan tetap bersifat pro-siklis mudah menguat saat harga komoditas naik, namun rentan melemah ketika tekanan global meningkat.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan