Uni Emirat Arab (UEA) menaruh kepercayaan tinggi terhadap pengembangan bisnis sektor energi di Indonesia. Antara/Akbar Nugroho Gumay
Uni Emirat Arab (UEA) menaruh kepercayaan tinggi terhadap pengembangan bisnis sektor energi di Indonesia. Antara/Akbar Nugroho Gumay

Rincian Kerja Sama Sektor Energi antara RI-UEA

Ekonomi uni emirat arab
Suci Sedya Utami • 13 Januari 2020 20:43
Jakarta: Uni Emirat Arab (UEA) menaruh kepercayaan tinggi terhadap pengembangan bisnis sektor energi di Indonesia. Hal tersebut tercermin dari 11 perjanjian bisnis yang berhasil diteken antara Indonesia dengan pelaku usaha UEA.
 
Total estimasi nilai investasi yang diperoleh dari 11 hasil perjanjian tersebut mencapai Rp314,9 triliun atau USD22,89 miliar. Mengutip laman resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Senin, 13 Januari 2020, dari perjanjian bisnis tersebut sebagian menyasar ke sektor energi, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset.
 
Salah satu dari kesepakatan bisnis yang akan dijalankan adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung di Waduk Cirata, Jawa Barat. Perusahaan energi baru terbarukan (EBT) Masdar yang berbasis di Abu Dhabi, UEA, nantinya akan bermitra dengan PT Pembangkit Jawa Bali Investasi (PJBI) membangun PLTS Terapung Cirata sebesar 145 Mega Watt Peak (MWp).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Investasi di pembangkit ini diperkirakan mencapai Rp1,8 triliun atau USD129 juta. PLTS Terapung Cirata diproyeksikan memecahkan rekor pembangkit bertenaga surya terbesar di ASEAN setelah PLTS di Filipina, Cadiz Solar Powerplant sebesar 132,5 MW.
 
Selain pengembangan Energi Baru Terbarukan, ditandatangani pula kesepakatan bisnis sejumlah proyek migas seperti pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan antara Pertamina dengan Mubadala. Potensi kerja sama dalam proyek ini senilai USD1,6 miliar atau Rp21,9 triliun.
 
Kemudian potensi kerja sama minyak mentah ke petrokimia di Balongan antara Pertamina dengan ADNOC dengan nilai investasi kurang lebih USD10,1 miliar, hingga penyediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) antara ADNOC dengan Pertamina dengan nilai investasi USD90 juta hingga USD270 juta atau setara Rp1,2 triliun hingga Rp3,7 triliun.
 
Pada subsektor mineral, ditandatangani pula kerja sama Emirates Global Aluminium (EGA) dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam rangka penambahan produksi ingot alloy dan billet. Pada masa uji coba penambahan produksi direncanakan sekitar 20 ribu ton, dimana kapasitas produksi normal saat ini mencapai 250 ribu ton.
 
Di samping sebelas perjanjian bisnis, diteken pula lima perjanjian antara pemerintah UEA dan Indonesia dalam bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan penanggulangan terorisme.
 
"Saya sangat sambut baik, hari ini 16 perjanjian kerja sama dapat dilakukan," kata Presiden Jokowi usai pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo dengan Putra Mahkota Abu Dhabi dan Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata PEA Mohamed bin Zayed di Abu Dhabi Senin, 13 Januari waktu setempat.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif