Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah mengatakan Indonesia tak sendirian mengalami defisit anggaran - - Foto: Medcom/ Desi Angriani
Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah mengatakan Indonesia tak sendirian mengalami defisit anggaran - - Foto: Medcom/ Desi Angriani

Defisit Anggaran, Indonesia Tak Sendirian

Ekonomi defisit anggaran
Eko Nordiansyah • 09 April 2020 12:05
Jakarta: Dampak ekonomi dan fiskal akibat penyebaran virus korona tak hanya dirasakan oleh Indonesia. Pelebaran defisit anggaran juga terjadi di berbagai negara.
 
Pelebaran defisit anggaran Indonesia diproyeksikan mencapai Rp852 triliun atau setara 5,07 persen terhadap PDB. Hal ini menyusul penambahan stimulus oleh pemerintah untuk menanggulangi dampak negatif penyebaran covid-19.
 
Total tambahan anggaran mencapai Rp405 triliun atau setara 2,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Penambahan anggaran ini malah membuat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kian melebar.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Indonesia tidak sendiri, negara lain juga diprediksikan akan mengalami kondisi serupa," kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 9 April 2020.

 
Negara tetangga Malaysia misalnya, dengan tambahan insentif sebesar 250 miliar ringgit Malaysia, defisit anggarannya akan berada di kisaran 4,5 persen terhadap PDB. Bahkan Prancis berencana meningkatkan defisit anggarannya hingga tujuh persen.
 
Piter menambahkan Indonesia menjadi salah satu negara pemberi insentif terbesar di Asia. Jumlah insentif yang disuntik pemerintah lebih besar dibandingkan Tiongkok yang hanya 1,2 persen terhadap PDB, Korea Selatan 0,8 persen, ataupun India 0,5 persen. Namun angka itu lebih kecil dibandingkan Thailand yang menyuntik tiga persen, dan Malaysia 17 persen.
 
"Sayangnya tambahan belanja ini diproyeksikan tidak bisa mbangi oleh kenaikan penerimaan negara pada akhir tahun nanti. Pertumbuhan penerimaan negara akan jauh menurun dibandingkan tahun lalu, yang disebabkan oleh dua faktor utama," jelas dia.
 
Dari luar negeri, harga sejumlah komoditas mengalami penurunan imbas dari melambatnya permintaan global. Termasuk harga minyak mentah yang anjlok di bawah USD25.
 
Selain karena melemahnya permintaan global, ini juga dipicu oleh gagalnya kesepakatan negara-negara produsen khususnya Arab Saudi dan Rusia untuk memangkas produksi minyak.
 
Dari dalam negeri, terjadi pelemahan permintaan domestik yang berdampak pada melambatnya aktivitas pada sektor-sektor penyumbang penerimaan negara.
 
Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia yang sudah menunjukkan kontraksi sejak pertengahan tahun lalu. Pada Maret 2020 bahkan anjlok lebih dalam hingga ke level 45.
 
Melambatnya sektor manufaktur akan berdampak pada penerimaan perpajakan, karena sektor ini menyumbang sekitar 30 persen dari total penerimaan pajak.
 
"CORE memprediksikan penerimaan perpajakan akan berada di kisaran Rp1.452 triliun hingga Rp1.514 triliun. Jauh lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu yang mencapai Rp1.462 triliun," ungkapnya.

 

(Des)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif