Tepat, Rencana BI Naikkan Suku Bunga
Ilustrasi. (Foto: Antara/Rommy Pujianto).
Singapura: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan upaya menaikkan suku bunga acuan yang direncanakan Bank Indonesia (BI) dapat dianggap sebagai jawaban atas persoalan kurs atau nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar AS.

"Jadi kalau BI bilang kita tidak akan menghindar, tidak menutup peluang untuk menaikkan suku bunga kalau perlu, ya memang jawabannya kira-kira itu," kata Darmin Nasution di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-32 ASEAN di Singapura, akhir pekan ini.

Untuk diketahui, BI sudah mempertahankan BI 7-day repo rate (BI rate) di level 4,25 persen sejak September 2017. Suku bunga acuan rendah merupakan bentuk bantuan BI mendorong pertumbuhan ekonomi nasional lebih kencang karena bunga kredit rendah.

Menurut Darmin, situasi perkembangan global, khususnya pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diprediksi kian membaik memberikan dampak luas termasuk pada nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. "Kalau mereka membaik, bisa diperkirakan tingkat bunganya naik empat kali. Padahal yang di-price in oleh market, baru tiga. Jadi hampir pasti dia (suku bunga The Fed) akan naik empat kali tahun ini ke depan," katanya.

Oleh karena itu, Darmin menekankan perlunya ada adjustment dari pemerintah untuk menyesuaikan diri terhadap kondisi tersebut. BI sendiri sudah menyatakan tak menutup ruang untuk menaikkan suku bunga acuan BI rate. "Enggak akan banyak, di Amerika naiknya, 0,25 bps (basis poin) saja itu. Justru dampaknya akan kurang baik kalau dibiarkan kurs yang bergerak," katanya.

Namun, ia menegaskan kenaikan suku bunga acuan yang berkisar 0,25 bps tidak akan berpengaruh pada target-target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah ditetapkan sebelumnya.

Sementara itu, di luar dugaan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I-2018 tercatat 2,3 persen (seasonally adjusted at annual rates), lebih rendah ketimbang di kuartal sebelumnya 2,9 persen. Departemen Perdagangan AS menyatakan perlambatan pertumbuhan di kuartal pertama terutama mencerminkan perlambatan belanja konsumsi pribadi, ekspor, serta belanja negara bagian dan pemerintah daerah.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi AS di kuartal I-2018 lebih rendah daripada tahun sebelumnya, hal itu lebih tinggi dari ekspektasi mengingat konsumsi rumah tangga pada keseluruhan tahun ini diperkirakan cenderung lebih tinggi.

"Ini ditandai dengan tren kenaikan personal consumption expenditure yang juga merupakan indikator penting bagi bank sentral AS dalam merumuskan kebijakan moneternya yang akhirnya akan memengaruhi pergerakan di pasar keuangan global," ujar Josua, kemarin.

Melemahnya ekonomi AS di kuartal I telah mendorong konsolidasi dolar AS terhadap mata uang utama serta penurunan imbal hasil surat utang pemerintah AS pada perdagangan Jumat lalu.

Adapun non deliverable Forward (NDF) satu bulan dari USD/IDR pada sesi perdagangan AS juga cenderung menurun hingga akhir penutupan perdagangan AS yang mengindikasikan bahwa rupiah berpeluang menguat pada perdagangan Asia hari ini. NFD merupakan kontrak membeli atau menjual valas dalam jangka waktu tertentu dengan menggunakan kurs yang telah ditentukan di awal. (Media Indonesia)

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id