Jika sebelumnya akses terhadap pembiayaan menjadi faktor utama, kini kemampuan membaca perubahan pasar, mengelola risiko, dan bertindak pada waktu yang tepat menjadi keunggulan yang semakin menentukan.
PT Bank DBS Indonesia menilai perubahan tersebut telah menggeser peran industri perbankan. Setelah hampir empat dekade beroperasi di Indonesia, bank ini melihat bahwa keberhasilan nasabah tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki, melainkan juga kualitas informasi dan analisis yang digunakan dalam mengambil keputusan.
| Baca juga: Mengeksplorasi Potensi Bisnis Baru dari Eksibisi Pasar Lokal dan Dunia |
Presiden Direktur PT Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, mengatakan lembaga perbankan kini dituntut menjadi mitra strategis yang mampu membantu nasabah memahami dinamika ekonomi yang terus berubah.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), memungkinkan bank menghadirkan analisis yang lebih cepat, lebih relevan, dan lebih mendalam sehingga nasabah dapat mengambil keputusan bisnis maupun investasi dengan tingkat keyakinan yang lebih tinggi.
"Nilai sebuah bank ke depan bukan hanya diukur dari jumlah pembiayaan yang disalurkan, tetapi juga dari kemampuannya memberikan insight yang membantu nasabah menghadapi perubahan ekonomi," ujarnya.
Di tengah volatilitas pasar global, tantangan terbesar bukan lagi minimnya pilihan investasi maupun pembiayaan. Sebaliknya, persoalannya adalah bagaimana memilih peluang terbaik di tengah arus informasi yang begitu besar.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Bank DBS Indonesia memperkuat layanan riset melalui DBS Research dan CIO Insights. Layanan ini memberikan analisis ekonomi, perkembangan pasar, hingga proyeksi investasi yang dapat dimanfaatkan oleh nasabah individu maupun korporasi.
Bagi nasabah wealth management, pendekatan yang diterapkan kini tidak lagi sebatas mengelola aset. Strategi investasi dirancang agar mampu beradaptasi terhadap perubahan kondisi ekonomi sehingga portofolio tetap relevan dalam berbagai siklus pasar.
Selain itu, DBS juga memanfaatkan jaringan regionalnya di Asia guna membantu perusahaan Indonesia melakukan ekspansi ke luar negeri maupun mendukung perusahaan asing yang ingin mengembangkan bisnis di Indonesia.
Konektivitas tersebut difokuskan pada sejumlah sektor strategis seperti pertambangan, energi, pangan dan pertanian, infrastruktur, serta teknologi, media, dan telekomunikasi.
Wealth management terus berkembang
Bank DBS Indonesia juga memperkuat bisnis pengelolaan kekayaan sebagai salah satu mesin pertumbuhan perusahaan.Sepanjang 2025, bisnis Wealth Management dan Nasabah Prioritas mencatat pertumbuhan sekitar 11 persen secara tahunan dengan total Assets Under Management (AUM) mencapai SGD5,447 juta.
Ke depan, pertumbuhan tersebut akan didorong melalui perluasan basis nasabah, peningkatan kualitas relationship manager, serta pengembangan solusi investasi yang semakin komprehensif.
Untuk nasabah korporasi, bank ini juga memperluas layanan corporate wealth management yang mengintegrasikan keahlian industri, inovasi digital, prinsip keberlanjutan, dan konektivitas regional.
Di sisi lain, berbagai solusi treasury juga terus diperkuat untuk membantu kebutuhan lindung nilai (hedging), investasi, serta pengelolaan risiko perusahaan. Transformasi digital menjadi salah satu agenda utama Bank DBS Indonesia, terutama melalui pemanfaatan Artificial Intelligence.
Teknologi AI diterapkan untuk menghubungkan data, analitik, dan berbagai layanan sehingga mampu menghasilkan pengalaman perbankan yang lebih personal sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Penerapan AI difokuskan pada tiga area utama. Pertama, meningkatkan kualitas layanan kepada nasabah melalui personalisasi produk, rekomendasi layanan yang lebih tepat sasaran, hingga kemampuan mendeteksi potensi penipuan secara lebih cepat.
Kedua, meningkatkan produktivitas internal perusahaan sehingga proses bisnis menjadi lebih efisien dan keputusan dapat diambil dengan lebih akurat.
Ketiga, membangun sumber daya manusia yang siap menghadapi perkembangan teknologi melalui pelatihan AI dan data secara berkelanjutan.
Saat ini lebih dari 2.800 karyawan telah mengikuti jalur pembelajaran AI melalui berbagai platform internal, sementara perusahaan menyediakan lebih dari 10.000 materi pembelajaran untuk meningkatkan kompetensi pegawai.
Lim Chu Chong menegaskan bahwa penerapan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia, melainkan memperluas kapasitas kerja karyawan.
Menurutnya, filosofi perusahaan adalah "save our people, not jobs", yakni memanfaatkan AI agar tenaga kerja dapat dialihkan ke fungsi-fungsi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi sekaligus membuka peluang pekerjaan baru.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda