Illustrasi. Dok : Medcom/Mohhamad Irfan.
Illustrasi. Dok : Medcom/Mohhamad Irfan.

Pemerintah Perlu Optimalkan Kenaikan Peringkat Daya Saing

Ekonomi daya saing indonesia
16 Juni 2019 12:39
Jakarta: Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan pemerintah harus bisa memanfaatkan momentum dari peningkatan peringkat daya saing Indonesia dari posisi ke-43 pada 2018 menjadi posisi ke-32 pada 2019.
 
"Momentum kenaikan rating tersebut harus dimanfaatkan. Untuk itu pemerintah perlu perbaikan lainnya," kata Piter kepada Media Indonesia, dikutip Minggu, 16 Juni 2019.
 
Piter menyampaikan bahwa ada sejumlah hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah untuk diperbaiki ke depannya, terutama perbaikan efisiensi, baik di birokrasi maupun di bisnis.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Inefisiensi merupakan akar masalah perekonomian kita. Jadi, perbaikan efisiensi yang paling utama, baik di birokrasi maupun bisnis. Perbaikan efisiensi akan secara otomatis memperbaiki faktor-faktor lainnya," kata Piter.
 
Lebih lanjut, Piter menegaskan bahwa kenaikan peringkat daya saing tersebut tidak akan berarti bila tidak diwujudkan dengan meningkatnya aliran modal asing dalam bentuk foreign direct investment (FDI) ke dalam negeri.
 
"Kenaikan daya saing juga tidak berarti apabila kemudian tidak memperbaiki ekspor yang bisa berujung kepada perbaikan current account deficit," katanya.
 
Dalam konteks FDI, terang Piter, harus ada perbaikan terhadap permasalahan-permasalahan yang selama ini menghambat masuknya modal asing ke negeri, seperti perizinan, pembebasan lahan, inkosistensi kebijakan, dan lainnya.
 
Penguatan SDM
 
Dalam kaitan yang sama, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani mengatakan bahwa pemerintah perlu fokus untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal itu perlu dilakukan bila Indonesia ingin terus bersaing dan berkompetisi di tingkat global.
 
"Sekarang sudah saatnya kita mulai membangun sisi SDM bila ingin terus bersaing dan berkompetisi di tingkat global," kata Shinta, Sabtu, 15 Juni 2019.
 
Terpilihnya kembali Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019, menurut Shinta, itu berarti pemerintahan Jokowi bisa langsung meneruskan fokus pembangunan selanjutnya, yaitu pembangunan SDM.
 
Sebelumnya, dilaporkan bahwa Indonesia melompat sebelas tingkat dalam peringkat ekonomi paling kompetitif di dunia.
 
Indonesia dilaporkan naik ke posisi 32 menurut Peringkat Daya Saing Dunia (IMD). Lompatan ini merupakan peningkatan terbesar di kawasan Asia (lihat grafik). Pelompatan ini juga berkat semakin efisiennya sektor pemerintahan ataupun perbaikan kondisi infrastruktur dan bisnis.
 
Negara-negara di Asia Tenggara dicirikan sebagai negara dengan biaya tenaga kerja terendah di 63 negara yang diteliti oleh IMD. Di sisi lain, negara Asia Tenggara lainnya, Singapura, juga menorehkan peringkat terbaik dengan menggulingkan Amerika Serikat sebagai ekonomi paling kompetitif di dunia.
 
Pertama kalinya sejak 2010 Amerika Serikat tergelincir dari posisi teratas. Kenaikan Singapura ke atas didorong oleh infrastruktur teknologinya yang canggih, ketersediaan tenaga kerja terampil, undang-undang imigrasi yang menguntungkan, dan cara-cara efisien untuk mendirikan bisnis baru.
 
Secara umum, negara-negara di Wilayah Asia-Pasifik muncul sebagai negara dengan daya saing tinggi. Total ada 11 dari 14 ekonomi yang meningkatkan atau mempertahankan posisi mereka. Selain Singapura, Hong Kong juga ada di posisi kedua puncak grafik global.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif