Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.

BI Cemas Berlanjutnya Perang Dagang Kian Menyeret Ekonomi RI

Ekonomi bank indonesia ekonomi indonesia Perang dagang
Husen Miftahudin • 29 Oktober 2019 13:00
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo khawatir berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok bakal terus menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia. Bahkan keberlanjutan perang dagang itu membuat bank sentral kembali mengoreksi proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun depan.
 
"BI tahun ini (memperkirakan) perekonomian dunia tumbuh tiga persen dan tahun depan 3,1 persen. Tapi kalau perang dagang berlanjut, tahun depan bisa saja lebih rendah dari 3,1 persen, bisa tiga persen, bisa 2,9 persen, tergantung kelanjutan perang dagang," ujar Perry usai menghadiri acara Asia's Trade and Economic Priorities di Hotel Fairmont, Jalan Asia Afrika, Senayan, Jakarta Selatan, Selasa, 29 Oktober 2019.
 
Kondisi ini, aku Perry, jelas memengaruhi perekonomian di banyak negara, termasuk Indonesia. Apalagi ditambah dengan sejumlah risiko, seperti British Exit (Brexit) dan risiko geopolitik lainnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Oleh karena itu tentu saja kita mengharapkan dan menantikan kesepakatan-kesepakatan yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok mengenai perang dagang ini," ungkap dia.
 
Perry jelas mengharapkan perang dagang AS-Tiongkok itu segera berakhir. Maklum, selain memperlambat pertumbuhan ekonomi global, imbas perang dagang juga bisa menyeret sumber pertumbuhan perdagangan internasional dan harga komoditas.
 
"Hal itu jelas tidak menguntungkan bagi berbagai negara, termasuk Indonesia," keluhnya.
 
Belum lagi dengan ketidakpastian pasar keuangan global. Kebijakan bank sentral di banyak negara yang cenderung memperlonggar moneternya dengan menambah likuiditas tidak sejalan dengan premi risiko yang justru melambung tinggi.
 
"Dan karenanya kedua hal itu yang menyebabkan volatilitas aliran modal asing dan nilai tukar itu relatif tinggi," urainya.
 
Volatilitas aliran modal asing dan nilai tukar yang relatif tinggi lantaran banyak negara melakukan injeksi likuiditas. Sayangnya, pada saat bersamaan sejumlah risiko yang dihadapi justru masih tinggi.
 
"Itu tantangan yang harus dihadapi. Dan karenanya kita perlu memperkuat stabilitas dan ketahanan ekonomi kita, baik dari sisi makro maupun sistem keuangan," pungkas Perry.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif