"Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Maret 2021 secara tahun kalender sebesar 0,45 persen (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,37 persen (yoy)," ucap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam rilis perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah, Jumat, 19 Maret 2021.
Adapun penyumbang utama inflasi Maret 2021 sampai dengan pekan ketiga yaitu karena kenaikan harga pada komoditas cabai rawit sebesar 0,04 persen (mtm), bawang merah sebesar 0,03 persen(mtm), ikan mas dan tomat masing-masing sebesar 0,01 persen (mtm).
Sementara itu, komoditas yang menyumbang deflasi pada periode laporan berasal dari komoditas cabai merah dan emas perhiasan yang masing-masing mengalami penurunan harga sebesar 0,03 persen (mtm).
Terkait hal tersebut, Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.
"Termasuk langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," tegas Erwin.
Pada Februari 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perkembangan harga komoditas mengalami inflasi sebesar 0,10 persen. Dengan perkembangan ini, maka inflasi secara tahun kalender tercatat sebesar 0,36 persen, sedangkan inflasi secara tahunan 1,38 persen.
Inflasi Februari 2021 terjadi karena adanya kenaikan harga yang cukup signifikan pada sejumlah komoditas pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang menyumbang 0,02 persen terhadap inflasi periode laporan.
Adapun komoditas yang memberi kontribusi terbesar terhadap inflasi Februari 2021 adalah cabai rawit dan ikan segar. Kedua komoditas ini memberikan andil kepada inflasi sebesar 0,02 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News