Pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Lukman Hakim Ph. D. Foto: Humas UNS.
Pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Lukman Hakim Ph. D. Foto: Humas UNS.

Indonesia Resesi, Ini Cara Menghadapinya

Ekonomi Ekonomi Indonesia Krisis Ekonomi Resesi Ancam Indonesia
Ade Hapsari Lestarini • 29 September 2020 20:37
Jakarta: Sinyal Indonesia terjadi resesi di kuartal III-2020 sudah diungkapkan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati.
 
Pakar ekonomi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Lukman Hakim Ph. D melihat tanda-tanda resesi sudah jelas sebelum kuartal III-2020. Bahkan, sebelum pandemi covid-19 melanda, ekonomi Indonesia di akhir 2019 sudah melambat.
 
"Sejak akhir 2019 ekonomi kurang begitu menggembirakan. Karena neraca perdagangan sudah minus sehingga ketika masuk pandemi prediksi pemerintah akhir 2020 minus hampir 3-4 persen. Kuartal kedua kemarin, pada Agustus diumumkan minusnya 5,32 persen dan ini sudah sesuai dengan prediksi pemerintah bahwa pandemi ini akan menyebabkan pertumbuhan merosot," ujar Lukman Hakim, Selasa, 29 September 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lalu, bagaimana cara agar Indonesia tidak mengalami resesi berkepanjangan? Lukman mengimbau pemerintah harus menggenjot tingkat konsumsi masyarakat. Caranya, dengan terus menggencarkan pemberian Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan bantuan bagi pekerja bergaji di bawah Rp5 juta.
 
Dengan cara itu, masyarakat akan semakin mudah dan mau membelanjakan uangnya untuk membeli bahan kebutuhan pokok yang selama pandemi covid-19 ada kecenderungan penurunan harga di pasaran karena daya beli rendah.
 
Ia juga menambahkan, jelang masuk ke kuartal III-2020 pada 5 Oktober 2020, pemerintah harus mengebut dan memperbaiki skema pemberian bantuan. Tujuannya selain untuk meningkatkan tingkat konsumsi, juga agar ekonomi tidak minus terlalu besar.
 
"Harapan pemerintah dengan kemarin diberikan bantuan, konsumsi masyarakat meningkat. Ya, sebaiknya itu bantuan diberi pemerintah untuk konsumsi ya untuk konsumsi supaya resesi kita tidak terlalu dalam. Untuk kuartal ketiga besok diumumkan 5 Oktober diharapkan minusnya tidak sedalam yang kuartal II. Prediksinya Sri Mulyani hanya (minus) dua persen," ujarnya.
 
Menurut dia selama menangani pandemi covid-19, pemerintah cukup dilema antara memprioritaskan penyelamatan ekonomi atau kesehatan masyarakat. Hal tersebut dinilainya sebagai hal yang lumrah karena resesi akibat krisis kesehatan merupakan fenomena baru yang terjadi saat ini.
 
Resesi yang dialami Indonesia pada 2008 sebelumnya disebabkan oleh kerusakan sektor keuangan di Amerika Serikat (AS) dan periode 1997-1998 karena kerusakan sektor perbankan.
 
"Bahkan, ini kalau kita 100 hari jelang 2021, tapi Pak Jokowi kemarin ini harus dua minggu menjelang pengumuman 5 Oktober BPS. Pak Jokowi mendorong anak buahnya agar segera menyuntikkan dana kepada masyarakat yang digunakan untuk konsumsi supaya konsumsi tumbuh selama dua minggu ini dan pertaruhannya di sini. Supaya ekonominya tumbuh sehingga Oktober nanti itu minusnya tidak sedalam kemarin yang 5,32 persen diharapkan minusnya hanya dua persen," pungkas dia.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif