Gedung Bank Indonesia (MI/SUSANTO)
Gedung Bank Indonesia (MI/SUSANTO)

Rupiah Anjlok, BI Harus Tahan Suku Bunga Acuan

Ekonomi bank indonesia bi rate suku bunga repo
Desi Angriani • 16 Mei 2019 11:11
Jakarta: Bank Indonesia (BI) diminta menahan suku bunga acuan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) di level enam persen dalam Rapat Dewan Gubernur sore ini. Permintaan itu menyusul anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sepekan terakhir.
 
Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu menuturkan suku bunga acuan perlu ditahan lantaran sentimen negatif terhadap rupiah meninggi sejak memburuknya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
 
"Sekali lagi, kredibilitas BI dalam menstabilkan nilai tukar akan diuji. Namun, untuk saat ini, Bank Indonesia harus menggunakan cadangan devisa dan membiarkan suku bunga acuannya tidak berubah," kata Febrio, kepada Medcom.id, di Jakarta, Kamis, 16 Mei 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Febrio menambahkan di tengah persepsi pasar terkait dengan peringkat obligasi Pemerintah Indonesia yang masih bernilai BBB-, fenomena “flight-to-safety” kembali terjadi. Investor global menghindari aset berisiko, termasuk rupiah yang mendorong mereka memindahkan kembali asetnya ke investasi yang lebih aman.
 
Hal ini memicu lebih banyak aliran keluar untuk investasi portofolio. Terbukti imbal hasil surat utang pemerintah sempat menurun dengan imbal hasil rata-rata tenor 10 tahun dan satu tahun pada April masing-masing mencapai 7,79 persen dan 6,4 persen.
 
Net portofolio keluar sebesar USD1 miliar dalam empat minggu terakhir mendorong peningkatan imbal hasil tenor 10 tahun dan satu tahun menjadi masing-masing sebesar 8,22 persen dan 6,66 persen.
 
"Bank Indonesia telah melakukan intervensi pasar valuta asing sejak April lalu. Bank Indonesia perlu menyampaikan sinyal kepada pasar mengenai ekspektasi tingkat depresiasi rupiah dalam jangka pendek dan menengah," ungkapnya.
 
Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2019 lebih rendah dari perkiraan akibat tren melambatnya pertumbuhan manufaktur di tiga kuartal berturut-turut. Angka inflasi bulan lalu tetap rendah di 2,83 persen (yoy), dibandingkan dengan inflasi 3,41 persen di bulan yang sama tahun lalu.
 
Hal ini memperkuat asumsi bahwa permintaan domestik belum sepenuhnya merespon perayaan demokrasi dan musim Ramadan. Karenanya, tingkat suku bunga masih perlu dijaga sambil tetap menjaga likuiditas sistem perbankan.
 
"Melambatnya pertumbuhan PDB kuartal satu karena investasi yang melambat dan pelemahan harga komoditas," pungkas dia.
 
Adapun sejak 2018 lalu, bunga acuan betah di level enam persen. Bahkan kenaikan BI 7-Day Repo Rate terjadi sebanyak 175 basis poin atau 175 persen. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) sempat menahan bunganya di level 4,25 persen selama delapan bulan pada 2017.
 
Namun ketidakpastian pasar keuangan dunia dan penurunan likuiditas global memaksa bank sentral untuk menginjak gas di tahun berikutnya demi menjaga stabilitas ekonomi dan menyelamatkan rupiah.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif