Kualitas beras dalam operasi murah dikeluhkan warga karena bau apek dan banyak kutu. (MI/Benny Bastiandy)
Kualitas beras dalam operasi murah dikeluhkan warga karena bau apek dan banyak kutu. (MI/Benny Bastiandy)

Kualitas Beras Dikeluhkan, Bulog: Silahkan Ditukar

Tesa Oktiana Surbakti • 09 Maret 2015 14:37
medcom.id, Jakarta: Masyarakat di berbagai daerah mengeluhkan kualitas beras yang didistribusikan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) melalui operasi pasar (OP). Beras yang digelontorkan untuk menstabilkan harga beras di pasaran itu dinilai kurang baik, sehingga tak jarang masyarakat terpaksa mengoplos dengan beras lain agar layak dikonsumsi.
 
Menanggapi adanya keluhan terhadap kualitas beras, Perum Bulog memastikan telah melakukan pengecekan sebelum pasokan beras tersebut disebarluaskan di tengah masyarakat. 
 
"Sebelum (beras) keluar dari gudang, pasti kami cek. Biasanya di tiap daerah, ada tim khusus yang juga terdiri dari pemda setempat untuk mengecek kualitas beras," ujar Sekretaris Perusahaan Bulog Djoni Nur Ashari saat dikonfirmasi Media Indonesia, Senin (9/3). 

Pun dia turut memastikan kualitas beras yang disimpan di dalam gudang terus dipantau secara berkala. Salah satunya dengan perawatan spraying.
 
Kendati demikian, pihaknya tidak menampik bahwa dari sekian banyak beras yang disimpan, terdapat kemungkinan beras berkualitas buruk atau berkutu. Oleh karenanya, Djoni mengimbau kepada masyarakat untuk mengecek terlebih dahulu beras yang dibeli melalui operasi pasar. Jika menemukan beras berkualitas buruk, konsumen bisa mengembalikan beras tersebut ke satgas yang mendistribusikan beras. Seturut mekanisme yang berlaku, beras tersebut bisa ditukar dengan beras yang lebih baik.
 
"Kalau dari policy-nya, jika masyarakat menemukan beras Bulog yang terbukti buruk, bisa langsung ditukar. Nanti petugas bakal mengganti. Sejauh ini sudah ada beberapa laporan terkait masyarakat yang mengeluhkan kualitas beras Bulog. Dan tim di lapangan sudah mengecek untuk kembali mengontrol kualitas beras," papar dia.
 
Adapun total beras yang sudah didistribusikan Bulog melalui OP ke berbagai daerah sampai saat ini mencapai 75.300 ton. Sedangkan jumlah beras raskin yang telah digelontorkan sebanyak 325 ribu ton.
 
Djoko menjelaskan pemerintah bakal melakukan operasi pasar (OP) sampai masa panen raya tiba. Pihaknya meyakini masa panen raya menjadi momentum kembalinya harga besar ke titik stabil, setelah sebelumnya mengalami pelonjakan harga. Masa panen raya tahun ini diperkirakan terjadi sekitar April hingga Mei.
 
"Begitu panen raya tiba, otomatis kami hentikan OP. Karena artinya kan beras dari petani melimpah. Kalau kami tetap salurkan beras, kasihan petani. Nanti malah ada persaingan harga," tukasnya.
 
Berdasarkan pemantauan Bulog, lanjut dia, harga beras di berbagai daerah sudah mulai mengalami penurunan harga. Kisarannya bervariatif antara Rp500-Rp1.000. Seperti di Jakarta, harga beras kualitas medium yang semula sempat bertengger di kisaran Rp10.300, kini mulai merangsek turun menjadi Rp8.500-Rp8.900. 
 
"Beras yang kami pantau itu ada di tingkat grosir. Kalau di Jakarta, ya dilihat di Pasar Induk Cipinang. Rata-rata harga beras di berbagai daerah mulai turun drastis. Sedangkan untuk beras yang kami jual melalui OP, harganya tetap Rp7.500 sesuai dengan HPP," tandas Djoko.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADF)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan