Asumsi yang berubah terutama pada harga minyak. Sedangkan untuk inflasi tidak mengalami banyak perubahan.
"Inflasi mungkin tidak berubah banyak, kemungkinan tidak," kata Bambang. Pertumbuhan ekonomi pun masih dipatoknya pada 5,8 persen.
Pada kesempatan yang sama Kepala Pusat Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Lucky Al Firman mengungkapkan perubahan postur anggaran masih dihitung.
"Ini kan susah, dua minggu akhir November harusnya sudah ada lah," katanya. Dia mengatakan yang sudah pasti berubah adalah harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP).
Saat ini Kementerian Keuangan masih menunggu SKK Migas untuk menindaklanjuti perubahan harga ICP itu. Pertumbuhan ekonomi pun masih menunggu perhitungan penghematan.
"Pertumbuhan ekonomi bisa lebih bagus, karena saving-nya besar," ungkap Lucky.
Penghematan sebesar Rp9,5 triliun yang sempat dikemukakan Bambang pun dipandangnya tidak mungkin semuanya akan digunakan untuk membangun proyek infrastruktur. Hal ini karena masih ada kemungkinan penghematan digunakan untuk mengurangi defisit.
"Kalau proyek juga belum tentu bisa, Rp9,5 triliun tahun ini untuk kurangi defisit," imbuh Lucky. Saat dikonfimasi perkembangan harga minyak mentah dunia, dia masih enggan berkomentar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News