Edward Lee, Chief Economist, ASEAN and South Asia, Standard Chartered; dan Aldian Taloputra, Senior Economist, Standard Chartered Indonesia, hadir untuk membagikan rangkuman dari laporan riset global terbaru dari Standard Chartered yang bertema “An Uneasy Calm”, yang menggambarkan kondisi saat ini di mana prospek ekonomi global masih relatif stabil, namun dibayangi ketidakpastian yang meningkat akibat risiko geopolitik yang semakin tinggi, serta pengawasan yang lebih ketat terhadap keberlanjutan fiskal.
Aldian Taloputra memproyeksikan ekonomi Indonesia akan mengalami pertumbuhan siklikal dimana Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 5,2% di tahun 2026, atau meningkat dari 5% di tahun 2025, dengan didukung oleh konsumsi domestik yang stabil, pembelanjaan pemerintah yang tinggi, serta momentum investasi yang terjaga, khususnya yang sejalan dengan program prioritas pemerintah.
Konsumsi rumah tangga juga diperkirakan tumbuh sekitar 4,8% - 5,%, didukung oleh inflasi yang terkendali, belanja sosial pemerintah, serta perbaikan kondisi pasar tenaga kerja.Dari sisi kebijakan moneter, Standard Chartered memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan sikap yang berhati-hati sepanjang tahun 2026, dengan menyeimbangkan stabilitas eksternal serta dukungan terhadap pertumbuhan domestik.
Meskipun ruang penurunan diperkirakan semakin terbatas sebesar 25bps tahun ini, kebijakan likuiditas dan kebijakan makroprudensial akan tetap untuk mendorong pertumbuhan kredit di sektor-sektor prioritas.
Investasi diperkirakan tetap menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan, khususnya melalui pembangunan kapasitas industri hilirisasi, belanja modal pemerintah termasuk di dalamnya badan usaha dan investasi pemerintah serta infrastruktur. Namun, peran sektor swasta dan arus investasi asing langsung (FDI) akan menjadi semakin penting seiring terbatasnya ruang fiskal.
Outlook untuk tingkat global dan regional
Edward Lee menggarisbawahi bahwa perekonomian global diperkirakan tetap stabil di kisaran 3,4% di 2026, didukung oleh kebijakan moneter yang masih akomodatif, sikap fiskal yang suportif, serta meningkatnya investasi terkait AI.Di kawasan ASEAN, pertumbuhan diproyeksikan sedikit melambat, terutama bagi negera yang lebih terekspos secara eksternal seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam, seiring normalisasi percepatan ekspor ke Amerika Serikat dalam beberapa bulan ke depan.
Sebaliknya, negara-negara dengan basis permintaan domestik yang lebih kuat, termasuk Indonesia, India dan Filipina, diperkirakan relatif lebih tangguh. Edward juga menjelaskan restrukurisasi perdagangan yang tengah berlangsung serta fragmentasi geopolitik, akan terus membentuk arah arus modal dan keputusan invetasi di negara-negara berkembang.
Donny Donosepoetro OBE, CEO, Standard Chartered Indonesia, menjelaskan prospek pertumbuhan Indonesia tetap kuat memasuki tahun 2026, dengan ditopang oleh kuatnya permintaan domestik serta kerangka kebijakan makro yang relatif mendukung, meskipun sentimen global masih cenderung berhati-hati dan ketidakpastian geopolitik masih berlanjut.
Menurut Donny, di tengah kondisi di mana permodalan global semakin selektif, dunia usaha membutuhkan kejelasan arah, konektivitas lintas pasar, dan mitra jangka panjang.
“Melalui jaringan global kami, kehadiran regional yang kuat, serta kemampuan pembiayaan lintas negara dan pembiayaan berkelanjutan, Standard Chartered berada di posisi yang tepat untuk membantu korporasi di Indonesia untuk mengakses modal, mengelola risiko, dan berpartisipasi dalam rantai nilai regional maupun global,” imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News