Rupiah, kata analis riset FXTM Lukman Otunuga, sangat melemah terhadap dolar AS yang secara umum menguat pada perdagangan Kamis, 28 Juni 2018. Merujuk pada Jakarta interbank spot dolar rate (Jisdor), rupiah pada perdagangan Kamis terpantau di level Rp14.271 per atau melemah 108 poin (0,76 persen) dari perdagangan Rabu, 27 Juni 2018 di level Rp14.163 per USD.
Dolar AS sangat terangkat oleh prospek kenaikan suku bunga Fed dan ketidakpastian geopolitik sehingga selera terhadap mata uang berisiko pun melemah. Akibatnya, rupiah tetap terancam terus melemah.
"Perhatian investor akan tertuju pada rapat kebijakan Bank Indonesia hari ini untuk melihat apakah Bank Indonesia akan kembali meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25 bps lagi," ujarnya melalui rilis yang diterima, Kamis, 28 Juni 2018.
Perlu diperhatikan bahwa Bank Indonesia telah melakukan dua kali kenaikan suku bunga di Mei atau sebesar 50 bps dari 4,25 persen menjadi 4,75 persen, sebagai upaya untuk menyelamatkan nilai tukar rupiah dari apresiasi dolar AS serta menarik arus masuk modal.
"Depresiasi rupiah terutama terjadi karena faktor eksternal, BI mungkin memperketat kebijakan lagi untuk membantu mata uang domestik," tambah dia.
Pelemahan rupiah pun didorong oleh harga minyak yang menguat setelah Amerika Serikat meningkatkan tekanan kepada para sekutunya untuk memangkas impor minyak dari Iran mulai November. Sebagaimana diketahui dengan naiknya harga minyak maka dibutuhkan valas lebih banyak untuk Indonesia membelinya.
Kenaikan harga minyak ini didukung oleh gangguan pasokan dari Libya dan Kanada yang menjadi alasan bari bulls untuk mengantarkan minyak mentah WTI menuju USD70,80.
Faktor risiko geopolitik saat ini akan memicu kekhawatiran mengenai gangguan pasokan, sehingga harga minyak berpotensi semakin menguat di jangka pendek. Dari aspek teknis saja, harga minyak mentah WTI tetap bullish di grafik harian dengan membidik USD72 selama bulls mampu mempertahankan level USD70.
Pada komoditas emas, harganya tergelincir ke level terendah baru 2018 . Aksi harga ini menyiratkan bahwa dolar AS semakin kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga AS adalah faktor utama dalam melemahnya harga emas.
Dolar AS sepertinya akan tetap terangkat oleh ekspektasi yang semakin besar bahwa Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya dua kali lagi tahun ini.
"Karena itu, emas dapat semakin terpukul walaupun pasar menghindari risiko. Dari aspek teknis, emas tetap sangat bearish atau tertekan di grafik harian dan mingguan dengan harga di bawah USD1.250 dapat membuka jalan menuju USD1.241 per troy ons," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News