Gubernur BI Agus Martowardojo menjelaskan, perkembangan kondisi Jepang yang mengalami resesi dengan pertumbuhan ekonomi yang merosot di level 0,8 persen pada kuartal III-2015 belum dibahas dalam RDG BI November ini.
"Kalau untuk (kondisi) Jepang yang sekarang kita bicarakan mungkin di pertemuan akan datang karena semua kebijakan (yang diambil BI) seperti yang tadi sudah dibicarakan," ujar Agus, di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (17/11/2015).
Dirinya menambahkan, kondisi Jepang yang kembali mengalami resesi akan memaksa mereka melanjutkan kebijakan Quantitative Easing (QE). Dengan kondisi tersebut maka akan mendorong Eropa untuk juga mengeluarkan stimulus meski akan direspon berbeda dengan kebijakan Amerika Serikat (AS) yang justru akan menaikan tingkat suku bunganya.
"Kondisi Jepang yang quantitative easing, Eropa juga akan mengeluarkan stimulus itu adalah divergensi dibandingkan dengan Amerika yang mulai menaikan Fed Fund Rate yang akan berdampak pada stabilitas keuangan global," tegas dia.
Sebelumnya, perekonomian Jepang hanya tumbuh 0,8 persen di kuartal III-2015. Pertumbuhan tersebut lebih lambat dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Padalah Pemerintah Jepang baru saja menerbitkan kebijakan ekonomi yang diklaim mampu menggairahkan ekonomi Jepang. Namun sayangnya hal tersebut tidak dapat dicapai dengan baik.
Kebijakan tersebut antara lain pembelian obligasi dalam jumlah besar, reformasi ekonomi secara struktural, pemberian stimulus dari bank sentral, dan lain-lain. Kebijakan tersebut juga diharapkan bisa mengakhiri deflasi yang sudah terjadi di Jepang selama bertahun-tahun dengan target jangka panjang pertumbuhan ekonomi yang solid.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News