Ketua Umum Apindo Hariyadi B Sukamdani mengatakan lebarnya rentang proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021 itu dilandasi oleh kompleksitas berbagai faktor yang memengaruhinya. Apindo, lanjutnya, akan terus mencermati perkembangan penanganan pandemi.
"Dan kontribusinya terhadap realisasi percepatan pemulihan ekonomi di 2021," kata Hariyadi, dikutip dari Mediaindonesia.com, Rabu, 16 Desember 2020.
Ia menegaskan proyeksi maupun realisasi terhadap keadaan ekonomi nasional pada 2021 akan sangat bergantung pada mekanisme pengadaan dan efektivitas vaksin covid-19 yang distribusinya diperkirakan mulai pada akhir 2020 atau awal 2021, dan akan semakin diintensifkan hingga kuartal II-2021.
Untuk 2020, Hariyadi menyampaikan Apindo memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2020 secara keseluruhan berada di kisaran minus 1,45 persen hingga minus 2,80 persen. Pandemi, lanjut dia, menyebabkan proyeksi pertumbuhan 2020 berubah total, dengan realisasi pertumbuhan kuartal I sebesar 2,97 persen, kuartal II minus 5,32 persen, dan kuartal III minus 3,49 persen.
"Demikian pula pertumbuhan di kuartal IV 2020 yang diperkirakan masih minus," tuturnya.
Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bima Yudistira mengatakan akan ada perbaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 meski masih berada dalam teritori negatif. "Kuartal IV masih negatif, mungkin di kisaran minus dua persen," kata Bima.
Ia menjelaskan proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2020 yang masih negatif disebabkan angka kasus baru covid-19 di Indonesia menunjukkan peningkatan, bahkan menembus lebih dari 8.000 kasus pada 3 Desember 2020. "Meski ada kabar baik soal vaksin, kasus covid-19 di kuartal IV masih relatif tinggi, bahkan naik kembali di atas 8.000 kasus," katanya.
Di kesempatan terpisah, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian M Rudy Salahuddin menyatakan, komponen belanja pemerintah akan tetap menjadi daya topang utama terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
"Komponan belanja pemerintah tetap menjadi daya topang utama," ujarnya.
Belanja pemerintah itu, sambungnya, digenjot guna menjaga momentum pemulihan ekonomi yang telah terjadi sejak kuartal III. Melalui belanja pemerintah pula, pertumbuhan kuartal IV tahun ini ke arah semakin pulih. "Kita patut bersyukur sektor pertanian dan informasi komunikasi masih menunjukkan angka yang positif," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News