Bagi Indonesia, kondisi global bisa ikut memengaruhi harga energi dan komoditas, nilai tukar rupiah serta aliran modal. Seperti diketahui, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi 5,45 persen pada semester I-2026. Angka tersebut disebut termasuk salah satu yang tertinggi di antara negara anggota G20.
Sejumlah indikator lain juga menunjukkan kondisi yang relatif positif. Inflasi Agustus 2026 berada di level 3,19 persen secara tahunan, sementara realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ditambah Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 berada di level 118,5, yang menunjukkan optimisme konsumen yang cukup tinggi.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan kondisi 2027 relatif lebih optimistis. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat investasi, konektivitas, dan logistik untuk meredam tekanan ekonomi global.
“Di tahun 2027 relatif lebih optimis, baik itu terkait perhitungan pertumbuhan global maupun kita di Indonesia. Untuk itu, perlu memperkuat investasi, konektivitas, dan logistik untuk meredam dampak tekanan global,” jelas Susiwijono dalam keterangan resmi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI yang dilansir pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Tiga Mesin Ekonomi Jadi Andalan, Apakah Efektif?
Pemerintah menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi hingga 2029. Strategi tersebut dibagi menjadi tiga mesin utama, yaitu merevitalisasi ekonomi konvensional, membangun mesin ekonomi baru, serta meningkatkan produktivitas dan daya saing SDM.Pada sektor manufaktur, pemerintah mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik, industri semikonduktor hingga revitalisasi industri padat karya. Sementara sektor ekonomi digital diarahkan melalui pembangunan data center di salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Di sektor energi, pemerintah mendorong keamanan energi sekaligus meningkatkan penggunaan energi bersih. Produktivitas SDM juga diperkuat melalui Program Vokasi dan Magang Nasional, termasuk memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif dan berorientasi ekspor.
Strategi tersebut terlihat ambisius, tetapi efektivitasnya akan sangat bergantung pada seberapa jauh program tersebut mampu menciptakan pekerjaan, meningkatkan produktivitas usaha, membuka kesempatan bagi masyarakat, dan memperkuat daya beli.
Pemerintah juga menempatkan stabilitas ekonomi sebagai enabler, mulai dari menjaga daya beli, menciptakan iklim investasi yang efisien, memperkuat sektor finansial hingga jaring pengaman sosial.
“Enabler-nya yang harus dilakukan adalah menjaga stabilitas makro ekonomi, daya beli masyarakat, efisiensi dan iklim investasi yang mendukung, memperkuat sektor finansial, serta memperkuat jaring pengaman sosial,” jelas Susiwijono.
AI dan Ekonomi Baru, Jangan Sampai Indonesia Cuma Jadi Pasar
Indonesia resmi menjadi Founding Member World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) pada 16 Juli 2026 bersama 28 negara pendiri lainnya. Keikutsertaan tersebut diarahkan untuk memperkuat kerja sama pengembangan kapasitas, investasi dan tata kelola AI untuk kepentingan sipil.
“Kita harus aktif di forum AI, karena kalau tidak kita ketinggalan. Apalagi secara esensi, AI saat ini perkembangannya luar biasa besar,” ujar Susiwijono.
Masuk ke sektor AI memang bisa membuka peluang baru bagi Indonesia. Namun tantangannya adalah apakah perkembangan teknologi tersebut bisa menciptakan nilai tambah dan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, atau justru membuat Indonesia hanya menjadi pasar bagi teknologi dari negara lain.
Artinya, tantangan ekonomi Indonesia ke depan bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan. Pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan tersebut berkualitas, menciptakan lapangan kerja, menjaga daya beli, dan membuka kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Bagi masyarakat, keberhasilan ekonomi pada akhirnya bukan hanya terlihat dari angka pertumbuhan di laporan pemerintah, tetapi dilihat dari apakah penghasilan bertambah, pekerjaan lebih mudah didapat, harga tetap terjangkau, dan kehidupan terasa lebih sejahtera. (Wisa Irena Br Sitepu)