BI Perlu Menyamai Kenaikan The Fed
Ilustrasi The Fed. (FOTO: AFP)
Jakarta: Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (the Fed) berencana menaikkan tingkat suku bunga acuannya hingga 100 basis poin tahun ini. Suku bunga The Fed telah mencapai kisaran 1,75-2,00 persen atau naik sebanyak 50 basis poin.

Kepala Kajian Makro LPEM UI Febrio Kacaribu mengatakan FFR berpeluang naik sebanyak dua kali pada September dan Desember 20188. Sinyal kenaikan ini perlu diantisipasi oleh Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Day Reserve Repo Rate dalam Rapat Dewan Gubernur pekan depan.

"BI memang perlu menyamai kenaikan tersebut sepanjang 2018," kata Febrio kepada Medcom.id di Jakarta, Kamis, 21 Juni 2018.

Menurutnya Bank Indonesia memiliki dua pilihan dilematis. Pertama, kenaikan tingkat suku bunga akan berdampak pada turunnya net interest margin perbankan. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan kredit di 2018 akan susah untuk mencapai 9-10 persen.

"Ini akan menghambat pertumbuhan ekonomi untuk mencapai di atas 5,2 persen," tuturnya.

Kedua, depresiasi rupiah yang berlebihan pada 2018 akan memperburuk neraca perdagangan. Hal ini dapat  diperparah dengan tingginya ketidakpastian harga yang membuat pengusaha kesulitan untuk melakukan kontrak jual beli.

"Ekspor juga akan turun sehingga PDB akan tertekan," sambung dia.

Dengan dilema ini, lanjutnya, keputusan BI untuk memprioritaskan stabilitas kurs sudah tepat. Saat ini nilai rupiah secara domestik, yaitu inflasi, masih sangat terjaga. Sementara nilai rupiah secara eksternal harus distabilkan lewat kenaikan suku bunga acuan.

"Hal ini sebenarnya sesuai dengan tugas BI dalam UU kebanksentralan, yaitu menjaga stabilitas nilai rupiah," pungkas Febrio.

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id