Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis pada awal perdagangan Senin, 24 Agustus 2026. Pergerakan IHSG sejalan dengan sejumlah bursa utama Asia yang berada di zona merah, meski beberapa pasar saham kawasan masih mampu menguat.
Berdasarkan data perdagangan sekitar pukul 09.55 WIB, IHSG turun 6,41 poin atau 0,10 persen ke level 6.519,28.
| Baca juga: IHSG Hari Ini Naik 0,35 Persen, Waspadai Profit Taking |
Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah pergerakan bursa Asia yang cenderung variatif. Sejumlah indeks utama kawasan mengalami koreksi, dengan pelemahan terdalam terjadi di Korea Selatan dan Hong Kong.
Indeks Kospi Korea Selatan tercatat anjlok 182,80 poin atau 2,64 persen ke posisi 6.730,15. Sementara itu, Indeks Hang Seng Hong Kong merosot 529,96 poin atau 2,04 persen menjadi 25.479,50.
Pelemahan juga terjadi di bursa Tiongkok dan Jepang. Indeks Shanghai Composite terkoreksi 29,35 poin atau 0,75 persen ke level 3.875,85. Sedangkan Nikkei 225 Jepang turun 92,36 poin atau 0,14 persen ke posisi 65.924,00.
Di kawasan Asia Tenggara, pergerakan bursa relatif lebih stabil. Indeks KLCI Malaysia turun tipis 0,22 poin atau 0,01 persen ke level 1.736,26. Indeks PSEi Filipina juga terkoreksi 1,49 poin atau 0,02 persen menjadi 6.236,97.
Sebaliknya, sejumlah bursa regional masih mencatatkan penguatan. Indeks VN Vietnam menjadi yang berkinerja paling baik dengan kenaikan 16,44 poin atau 0,93 persen ke posisi 1.784,56.
Indeks Straits Times Singapura turut menguat 0,33 persen menjadi 5,78, sedangkan indeks SET Thailand naik 3,79 poin atau 0,24 persen ke level 1.613,78.
Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan investor masih mencermati sentimen global dan perkembangan ekonomi kawasan. Tekanan di sejumlah bursa utama Asia turut menjadi perhatian pelaku pasar, sementara sebagian bursa Asia Tenggara masih mampu bertahan di zona positif.
IHSG Berpeluang Lanjut Menguat
Kepala Ekonom Mirae Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan penguatan IHSG pada perdagangan Jumat menunjukkan kualitas reli yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.
"Reli kali ini lebih baik karena didorong big-cap banks, terutama BBRI, BMRI, dan BBNI," ujar Rully.
Selain itu, aliran dana asing atau foreign inflow tercatat mendekati Rp1 triliun. Aliran dana tersebut juga terkonsentrasi pada sektor perbankan sehingga memberikan konfirmasi positif terhadap penguatan pasar saham.
Menurut Rully, kondisi tersebut menjadi sinyal positif karena reli IHSG sebelumnya lebih banyak ditopang oleh saham-saham tertentu.
Dari pasar valuta asing, rupiah turut memberikan sentimen positif. Nilai tukar rupiah menguat ke level Rp17.694 per dolar Amerika Serikat (AS).
"Memasuki Senin, kami melihat momentum IHSG semakin konstruktif," kata Rully.
Meski demikian, investor masih perlu mencermati sejumlah risiko eksternal. Imbal hasil atau yield US Treasury (UST) 10 tahun masih bertahan di sekitar 4,7 persen, sedangkan yield UST tenor 30 tahun berada di kisaran 5,25 persen.
Di sisi lain, harga minyak mentah Brent masih berada di atas USD93 per barel. Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya kekhawatiran pasar terhadap faktor fiskal, inflasi, dan geopolitik global.
Rully menilai keberlanjutan aliran dana asing dan pergerakan rupiah akan menjadi faktor penting bagi IHSG ke depan. Hal ini terutama karena imbal hasil obligasi global masih berada pada level tinggi.
"Keberlanjutan foreign inflow dan rupiah menjadi kunci, terutama di tengah global yields yang tetap tinggi," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda