Meski sentimen negatif datang dari pelemahan bursa saham Amerika Serikat, penguatan sejumlah harga komoditas, aksi beli investor asing, serta penguatan nilai tukar rupiah diperkirakan mampu menopang pergerakan pasar domestik.
| Baca juga: IHSG Pagi Ini Naik ke Level 6.112, Berikut Faktor Pendorongnya |
IHSG menguat pada pembukaan perdagangan hari ini dengan naik 0,93 persen ke 6233. Kenaikan IHSG didorong dengan laju indeks unggulan seperti JII dan LQ45 yang masing-masing naik sebesar 1,19 persen dan 1,15 persen.
Pada akhir perdagangan pekan lalu, tiga indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona merah. Indeks Dow Jones turun 0,77 persen ke level 52.146,42, diikuti S&P 500 yang melemah 1,01 persen menjadi 7.457,69. Sebaliknya, indeks FTSE 100 Inggris masih mampu menguat 0,27 persen, sementara Nikkei Jepang anjlok 4,03 persen.
Pelemahan Wall Street dipicu aksi jual pada saham-saham sektor semikonduktor di tengah dimulainya musim laporan keuangan kuartal II-2026 serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Tekanan terhadap saham teknologi muncul setelah startup asal Tiongkok, Moonshot AI, meluncurkan model kecerdasan buatan (AI) terbaru yang diklaim mampu memperkecil kesenjangan dengan produk-produk unggulan dari Amerika Serikat. Klaim tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja perusahaan teknologi AS di sektor AI, terutama di tengah meningkatnya sensitivitas konsumen terhadap harga layanan berbasis AI.
Konflik Timur Tengah
Di sisi lain, eskalasi konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pelaku pasar. Ketegangan yang ditandai dengan aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak dunia melanjutkan penguatannya. Harga minyak tercatat naik 4,48 persen ke level USD82,49 per barel, sementara harga emas turut menguat 1,03 persen menjadi USD4.017,39 per troy ons sebagai aset lindung nilai.Sejumlah komoditas lain juga bergerak bervariasi. Harga timah naik 0,17 persen dan perak menguat 0,70 persen. Sebaliknya, harga nikel turun 1,09 persen, tembaga melemah 0,39 persen, serta crude palm oil (CPO) terkoreksi tipis 0,18 persen. Dari pasar domestik, indikator risiko Indonesia relatif stabil. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di level 7,26 persen, sementara premi credit default swap (CDS) Indonesia tenor lima tahun naik tipis menjadi 91,94 basis poin.
Menurut riset CGS International Sekuritas Indonesia, kombinasi sentimen global dan domestik membuat IHSG berpeluang bergerak variatif namun tetap memiliki kecenderungan menguat. Secara teknikal, indeks diperkirakan bergerak pada area support 6.060 hingga 5.945 dan resistance di kisaran 6.290 hingga 6.405.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda