Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

OJK Dorong Perbankan Syariah Jadi Penerima Wakaf Uang

Ekonomi OJK perbankan syariah wakaf
Husen Miftahudin • 08 Oktober 2020 22:11
Jakarta: Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyana mendorong perbankan syariah yang ada di Indonesia bertindak sebagai Lembaga Keuangan Syariah-Penerima Wakaf Uang (LKS-PWU).
 
Saat ini baru ada 22 lembaga keuangan syariah yang bertindak sebagai LKS-PWU, empat di antaranya bertindak sebagai mitra distribusi Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS).
 
Dari 22 lembaga keuangan syariah yang bertindak sebagai penerima uang wakaf, delapan di antaranya merupakan bank umum syariah, 13 unit usaha syariah, dan satu BPR Syariah. Padahal saat ini Indonesia sudah memiliki 14 Bank Umum Syariah (BUS), 20 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 163 Badan Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam konteks ini, peran perbankan syariah sebagai LKS-PWU akan menjadi sangat penting dalam mendukung perkembangan wakaf uang di Indonesia. Pasalnya, peran bank syariah dalam sektor sosial dapat dilihat dari aktivitasnya sebagai lembaga keuangan syariah penerima wakaf.
 
"Hal ini mengisyaratkan bahwa masih terdapat ruang (bagi perbankan syariah) untuk turut serta berkontribusi dalam pengembangan ekonomi umat. Salah satunya melalui instrumen CWLS," ujar Heru dalam High Level Seminar on Waqf secara virtual di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2020.
 
Namun dalam mendukung pengembangan sektor sosial ini, tegas Heru, OJK tetap menekankan bank syariah untuk selalu menjalankan aktivitasnya secara prudent dengan mematuhi aspek manajemen risiko, good governance, transparansi, akuntabilitas, serta ketentuan lainnya.
 
"Tujuannya adalah untuk menjaga stabilitas perbankan syariah agar dapat berkembang dan berkontribusi secara optimal dalam perekonomian nasional," ucapnya.
 
Sementara itu, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin mendorong peningkatan literasi masyarakat mengenai wakaf. Sebab nilai indeks literasi wakaf di Indonesia hanya sebesar 50,48.Kemudian, nilai pemahaman wakaf dasar di level 57,67 dan nilai pemahaman wakaf lanjutan hanya 37,97.
 
Kamaruddin kemudian menyampaikan strategi dalam meningkatkan literasi wakaf di Indonesia. Dia menegaskan, peningkatan literasi wakaf tersebut penting dalam upaya mengoptimalkan pengembangan wakaf di Indonesia.
 
"Oleh karena itu, Kementerian Agama melalui strategi menuju gerakan wakaf inklusif melakukan beberapa langkah yaitu meningkatkan literasi wakaf masyarakat, menyesuaikan regulasi wakaf, memperkuat standar kompetensi nazir, mengembangkan instrumen wakaf serta memperluas kerja sama dalam rangka memproduktifkan aset masyarakat," tutup Kamaruddin.
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif