Financial Expert Ajaib Panji Yudha menekankan tekanan ini membuat dominasi pasar Bitcoin bertahan di level sekitar 59%, di tengah penyusutan total kapitalisasi pasar kripto yang turun hampir 12% menjadi sekitar USD2,16 triliun. Pelemahan tersebut menandai fase koreksi terdalam sejak euforia pasca pemilu Amerika Serikat pada November 2024.
| Baca juga: Harga Bitcoin Tertekan, Portofolio Michael Saylor Masuk Zona Merah |
Penurunan harga ke bawah USD70.000 juga berarti seluruh reli Bitcoin sepanjang akhir 2024 hingga 2025 terhapus. Dari sudut pandang historis, posisi saat ini menempatkan Bitcoin lebih dari 50% di bawah rekor tertingginya yang tercapai pada Oktober tahun lalu di level USD126.199.
Pada periode yang sama, aset lindung nilai tradisional seperti emas justru mencatatkan penguatan sekitar 24%, memperlebar kontras antara pasar kripto dan aset safe haven.
Tekanan jual di pasar kripto semakin intens setelah aksi koreksi di pasar saham global, yang dipicu kekhawatiran investor terhadap dampak disrupsi kecerdasan buatan (AI) terhadap valuasi perusahaan teknologi. Sentimen risk-off ini mempercepat arus keluar dana dari aset berisiko, termasuk kripto.
Dampak lanjutan dari pelemahan harga terlihat jelas pada pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi posisi mencapai lebih dari USD2,2 miliar, dengan mayoritas berasal dari posisi long yang terpaksa ditutup akibat penurunan harga yang cepat. Likuidasi posisi beli tercatat mendominasi dengan nilai hampir USD2 miliar, sementara posisi short relatif lebih kecil.
Sejumlah pelaku besar pasar juga tercatat melakukan penyesuaian portofolio. World Liberty Financial, entitas keuangan yang dikaitkan dengan Donald Trump, dilaporkan melepas Bitcoin senilai sekitar USD5 juta saat harga berada di kisaran USD69.000, meski masih mempertahankan eksposur aset kripto dalam jumlah signifikan. Di sisi lain, pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, terpantau melepas sebagian kepemilikan ETH sebagai bagian dari strategi pendanaan proyek teknologi privasi dan perangkat keras terbuka.
Tekanan juga datang dari pasar institusional. Produk ETF Bitcoin spot mencatatkan arus keluar harian lebih dari USD500 juta, yang membuat arus dana mingguan berbalik negatif. Fenomena ini memperkuat sinyal kehati-hatian investor institusi terhadap prospek jangka pendek aset kripto.
Di tengah koreksi luas pasar, stablecoin justru menunjukkan dinamika berbeda. Tether (USDT) mencatatkan peningkatan kapitalisasi pasar yang signifikan sepanjang kuartal terakhir 2025, didukung oleh lonjakan cadangan aset dan eksposur besar pada surat utang pemerintah Amerika Serikat. Posisi tersebut menempatkan Tether sebagai salah satu pemegang obligasi AS terbesar di dunia, melampaui kepemilikan beberapa negara.
Untuk jangka pendek, pergerakan Bitcoin diperkirakan masih akan berada dalam fase konsolidasi dengan rentang harga sekitar USD62.000 hingga USD65.000. Sementara itu, Ethereum berpotensi bergerak di kisaran USD1.800 hingga USD2.000, seiring investor menanti arah sentimen global dan stabilitas pasar keuangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News