Bank Indonesia. Foto: Mi/Susanto.
Bank Indonesia. Foto: Mi/Susanto.

BI Jaga Stabilitas, Ruang Penurunan Suku Bunga Semakin Terbatas

Arif Wicaksono • 23 April 2026 09:44
Ringkasnya gini..
  • Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global
  • Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menilai keputusan tersebut konsisten dengan fokus Bank Indonesia untuk meredam volatilitas rupiah yang masih berada di bawah tekanan,
Jakarta: Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan meningkatnya ketidakpastian global. Langkah ini dinilai mencerminkan sikap kebijakan yang lebih hawkish, dengan prioritas utama menjaga stabilitas mata uang ketimbang membuka ruang pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
 
Analis Mirae Asset Sekuritas Jessica Tasijawa menilai keputusan tersebut konsisten dengan fokus Bank Indonesia untuk meredam volatilitas rupiah yang masih berada di bawah tekanan, terutama akibat sentimen eksternal, termasuk eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan tingginya harga energi global.
 
Baca juga:   Ruang Pemotongan Suku Bunga Semakin Terbatas                 

Menurut Jessica, pelemahan rupiah yang tercatat sekitar 0,8 persen secara month-to-date ke level Rp17.140 per dolar AS menempatkan mata uang Indonesia sebagai salah satu yang berkinerja terlemah di kawasan. Kondisi itu terjadi meskipun bank sentral telah mengerahkan berbagai instrumen non-suku bunga, mulai dari intervensi pasar valuta asing hingga pengelolaan likuiditas.
 
“Bank Indonesia terlihat menempatkan stabilitas sebagai prioritas utama. Sikap ini menunjukkan ruang penurunan suku bunga menjadi sangat terbatas selama tekanan terhadap rupiah masih bertahan,” ujar Jessica.

Ia menjelaskan pelemahan rupiah saat ini tidak hanya dipicu faktor jangka pendek, tetapi juga terkait risiko struktural yang lebih luas, terutama kekhawatiran terhadap membesarnya defisit eksternal dan fiskal.
 
Jessica memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia berpotensi melebar ke kisaran 0,4–0,7 persen terhadap PDB pada 2026, didorong naiknya biaya impor energi dan tekanan berkelanjutan dari arus keluar pendapatan primer, termasuk pembayaran kewajiban luar negeri.
 
Di sisi fiskal, defisit anggaran juga diperkirakan meningkat ke sekitar 2,95 persen dari PDB, sedikit lebih tinggi dibanding proyeksi tahun sebelumnya. Menurut analisis Mirae Asset Sekuritas, setiap kenaikan harga minyak 10 persen dapat memperlebar defisit fiskal sekitar 0,02–0,07 persen dari PDB, terutama melalui kenaikan beban subsidi energi.
 
Selain itu, posisi eksternal dinilai menghadapi tekanan tambahan. Indonesia sebagai net importer minyak berisiko mengalami penyusutan surplus perdagangan bila harga energi terus naik. Dalam simulasi Mirae, kenaikan harga minyak 10 persen berpotensi menggerus surplus perdagangan sekitar 20–40 persen.
 
Jessica menyebut kondisi tersebut membentuk apa yang disebut sebagai *deficit trap*, ketika tekanan pada neraca berjalan, fiskal, dan cadangan devisa saling memperkuat dan memberi tekanan terhadap rupiah.
 
Di tengah kondisi itu, Bank Indonesia dinilai masih mengandalkan kombinasi kebijakan stabilisasi. Selain intervensi di pasar valas, bank sentral juga disebut aktif mengelola pasar obligasi, termasuk membiarkan imbal hasil tenor pendek naik sambil menjaga tenor panjang tetap terkendali untuk menopang arus modal asing.
 
Cadangan devisa yang turun menjadi sekitar USD148,2 miliar per Maret 2026 dari USD156 miliar pada akhir 2025, menurut Jessica, juga mencerminkan intensitas upaya stabilisasi yang sedang dilakukan.
 
“Pesan kebijakannya cukup jelas: stabilitas rupiah didahulukan. Selama kurs masih berada di atas Rp17.000 per dolar AS dan risiko inflasi dari energi tetap tinggi, ruang pemangkasan suku bunga akan sangat sempit,” kata dia.
 
Dengan latar itu, Mirae Asset Sekuritas masih melihat Bank Indonesia mempertahankan bias pelonggaran yang terbatas sepanjang tahun ini, sambil terus mengutamakan ketahanan eksternal dan stabilitas pasar keuangan domestik.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan