Ilustrasi tabungan. Foto: Unsplash.
Ilustrasi tabungan. Foto: Unsplash.

Fenomena Makan Tabungan Makin Terlihat, Saldo Rekening Kecil Susut 45 Persen

Arif Wicaksono • 09 Oktober 2026 13:34
Jakarta: Ketika pendapatan bulanan belum kembali diterima, sebagian masyarakat sudah harus menggunakan uang yang tersimpan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut menggambarkan fenomena “mantab” atau makan tabungan, ketika simpanan yang seharusnya menjadi bantalan keuangan mulai digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin.

Tekanan terhadap kemampuan menabung terlihat dalam Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 2026. Porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 72,7 persen pada Juli menjadi 74,2 persen pada Agustus.

Pada periode yang sama, porsi pendapatan yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen. Sementara itu, alokasi untuk pembayaran cicilan atau utang juga sedikit menurun dari 10,5 persen menjadi 10 persen.
 

Dengan komposisi tersebut, setiap Rp1 juta pendapatan rata-rata dialokasikan sekitar Rp742 ribu untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk pembayaran cicilan atau utang, dan Rp158 ribu untuk tabungan.

Penurunan kemampuan menyisihkan pendapatan juga tercermin dari kondisi saldo rekening masyarakat dengan simpanan relatif kecil. Data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menunjukkan rata-rata saldo rekening dengan simpanan di bawah Rp100 juta turun dari sekitar Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026.

Artinya, dalam kurun sekitar delapan tahun, rata-rata saldo kelompok rekening tersebut menyusut sekitar 45 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan keuangan masyarakat tidak selalu berkaitan dengan besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan mempertahankan sebagian pendapatan sebagai dana cadangan.

Head of Investment & Insurance DANA Group Ivan Kusuma mengatakan berkurangnya saldo tabungan tidak selalu disebabkan oleh pengeluaran untuk kebutuhan gaya hidup. Menurut dia, persoalan juga dapat muncul ketika dana untuk kebutuhan sehari-hari, keadaan darurat, dan tujuan jangka panjang ditempatkan dalam satu sumber dana.

“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat,” ujar Ivan.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat masyarakat lebih mudah menggunakan tabungan ketika menghadapi kebutuhan yang muncul sehari-hari. Karena itu, diperlukan pengelolaan keuangan yang memberikan batas dan tujuan yang lebih jelas untuk setiap dana.

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah conscious spending atau membelanjakan uang secara sadar sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Pendekatan ini bukan berarti menghilangkan seluruh pengeluaran yang bersifat konsumtif, melainkan memastikan pengeluaran dilakukan setelah kebutuhan dan prioritas ditentukan.

“Conscious spending intinya adalah menentukan dulu untuk apa uang akan dipakai, sebelum uang tersebut dibelanjakan. Tanpa rencana, pengeluaran sehari-hari akan terus terasa lebih penting, sehingga tabungan untuk masa depan selalu dikorbankan,” katanya.


Mengenali Pola Pengeluaran


Langkah pertama dapat dimulai dengan melihat kembali ke mana pendapatan digunakan. Pengeluaran bernilai kecil seperti makanan ringan, biaya parkir, transportasi, hingga langganan aplikasi sering kali tidak terasa ketika dilakukan satu per satu.

Namun, akumulasi berbagai pengeluaran kecil tersebut dapat mengambil porsi yang cukup besar dari pendapatan dalam satu bulan. Dengan mencatat transaksi secara rutin, masyarakat dapat mengetahui pola pengeluaran sekaligus menentukan pos mana yang masih diperlukan dan mana yang dapat dikurangi.

Pisahkan Dana Berdasarkan Tujuan

Menempatkan seluruh uang dalam satu rekening juga dapat membuat batas antara uang untuk kebutuhan sekarang dan dana masa depan menjadi kurang jelas.

Masyarakat dapat membuat alokasi berdasarkan tujuan, misalnya kebutuhan rutin, dana darurat, tabungan jangka pendek, serta investasi. Dengan cara tersebut, uang yang telah disisihkan untuk tujuan tertentu tidak mudah digunakan untuk kebutuhan yang sebenarnya masih dapat ditunda.

Instrumen yang digunakan pun dapat disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing, mulai dari tabungan hingga instrumen investasi yang relatif konservatif.

Berikan Jeda Sebelum Membeli

Kebiasaan memberikan jeda sebelum melakukan pembelian juga dapat membantu mengurangi pengeluaran impulsif. Untuk barang yang bukan kebutuhan mendesak, keputusan dapat ditunda selama 24 jam.

Jeda tersebut memberikan kesempatan untuk mengevaluasi kembali apakah barang yang ingin dibeli memang dibutuhkan atau hanya muncul karena dorongan sesaat.

Prinsipnya bukan melarang konsumsi, melainkan memberi ruang bagi seseorang untuk mengambil keputusan setelah mempertimbangkan kondisi keuangannya.

Gunakan Cicilan Secara Terukur

Cicilan juga tidak selalu menjadi masalah selama penggunaannya disesuaikan dengan kemampuan membayar. Yang perlu diperhatikan adalah total kewajiban bulanan dan tujuan penggunaan dana tersebut.

Cicilan yang terlalu besar dapat mengurangi ruang untuk menabung pada bulan berikutnya. Sebaliknya, penggunaan kredit secara terukur dapat membantu mengatur arus kas selama kewajibannya masih berada dalam batas kemampuan finansial.

Tetap Sisihkan Dana untuk Menikmati Hidup

Menjaga kesehatan keuangan bukan berarti menghilangkan seluruh pengeluaran untuk hiburan atau kebutuhan personal. Justru, anggaran yang realistis perlu memberikan ruang untuk menikmati hasil kerja.

Dengan memasukkan kebutuhan rekreasi atau hiburan ke dalam anggaran sejak awal, pengeluaran tersebut tidak perlu dianggap sebagai kegagalan dalam menabung. Yang lebih penting adalah memastikan pengeluaran untuk menikmati hidup tidak mengorbankan kebutuhan pokok, dana darurat, dan tujuan keuangan jangka panjang.

Ketika porsi pendapatan yang dapat ditabung semakin kecil, kemampuan mengatur arus uang menjadi semakin penting. Fenomena “makan tabungan” pada akhirnya bukan hanya soal seberapa besar seseorang berbelanja, tetapi juga bagaimana pendapatan dibagi antara kebutuhan hari ini, kebutuhan tak terduga, dan tujuan finansial di masa depan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan