Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Husen M
Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Husen M

Makan Tabungan Makin Marak, Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Turun 45%

Annisa ayu artanti • 08 Oktober 2026 12:39
Ringkasnya gini..
  • Saldo rata-rata rekening di bawah Rp100 juta turun 45%, dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026.
  • Porsi konsumsi masyarakat naik menjadi 74,2%, sementara porsi pendapatan yang ditabung turun menjadi 15,8%.
  • Fenomena makan tabungan terjadi saat simpanan ikut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari karena uang tidak memiliki tujuan yang jelas.
Jakarta: Gaji belum masuk, tapi uang di tabungan sudah mulai kepakai. Kondisi seperti ini makin sering dirasakan masyarakat yang harus menggunakan simpanan untuk menutup kebutuhan sehari-hari.

Fenomena yang kerap disebut “mantab” alias makan tabungan ini terlihat dari semakin kecilnya saldo rata-rata rekening masyarakat dengan simpanan di bawah Rp100 juta.

Survei Konsumen Bank Indonesia pada Agustus 20261 mencatat porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi naik dari 72,7 persen menjadi 74,2 persen hanya dalam satu bulan. 

Sebaliknya, porsi yang disisihkan untuk tabungan turun dari 16,8 persen menjadi 15,8 persen. Sementara itu, porsi untuk membayar cicilan atau utang justru sedikit menurun, dari 10,5 persen menjadi 10 persen.

Artinya, dari setiap Rp1 juta pendapatan, rata-rata sekitar Rp742 ribu digunakan untuk konsumsi, Rp100 ribu untuk cicilan, dan hanya Rp158 ribu yang tersisa untuk ditabung.  Porsi tabungan tergerus terutama karena kebutuhan belanja sehari-hari yang terus meningkat.
   

Saldo Rekening di Bawah Rp100 Juta Makin Tipis

Tekanan tersebut juga terlihat dari data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas). Meski total simpanan masyarakat dengan tabungan di bawah Rp100 juta masih tumbuh, saldo per rekening terus menipis. 

Rata-rata saldo rekening pada kelompok ini kian menyusut dari Rp3,1 juta pada 2018 menjadi Rp1,7 juta pada Mei 2026. Dalam kurun waktu sekitar delapan tahun, nilainya menyusut sekitar 45 persen.

“Saldo yang terus berkurang bukan selalu karena terlalu banyak membeli kopi atau hiburan. Masalahnya sering kali muncul karena uang untuk kebutuhan hari ini, kebutuhan darurat, dan tujuan masa depan bercampur dalam satu tempat. Ketika semuanya terlihat bisa dibelanjakan, tabungan akan selalu menjadi pos pertama yang dikorbankan,” ujar Ivan Kusuma, Head of Investment & Insurance DANA Group.

Strategi Keuangan Penting In This Economy

Menurut Ivan, masyarakat membutuhkan strategi yang lebih realistis daripada sekadar memangkas seluruh pengeluaran. Salah satunya melalui pendekatan conscious spending, yakni memberi tujuan yang jelas pada uang sebelum uang tersebut dibelanjakan.

Conscious spending intinya adalah menentukan dulu untuk apa uang akan dipakai, sebelum uang itu dibelanjakan. 

"Tanpa rencana, pengeluaran sehari-hari akan terus terasa lebih penting, sehingga tabungan untuk masa depan selalu dikorbankan," ujar Ivan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan