Ilustrasi karyawan di pabrik rokok - - Foto: Medcom
Ilustrasi karyawan di pabrik rokok - - Foto: Medcom

Kenaikan Cukai Gerus Laba Sampoerna 15,44% Jadi Rp4,1 Triliun

Ekonomi Emiten industri rokok hm sampoerna laporan keuangan cukai tembakau
Eko Nordiansyah • 09 September 2021 16:00
Jakarta: PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mencatat laba bersih perusahaan pada semester I-2021 sebesar Rp4,1 triliun atau turun 15,4 persen. Penurunan ini disebabkan oleh adanya kenaikan cukai secara signifikan, sehingga laba kotor perusahaan mengalami penurunan sebesar 9,3 persen dibandingkan semester I tahun lalu.
 
"Melalui penerapan berbagai strategi yang konkret, kinerja Sampoerna pada semester I-2021 mengalami kenaikan penjualan bersih sebesar 6,5 persen menjadi Rp47,6 triliun," kata Presiden Direktur Sampoerna Mindaugas Trumpaitis, dalam video conference, Kamis, 9 September 2021.
 
Ia menambahkan, penurunan mobilitas dan ekonomi masyarakat yang cenderung negatif, secara keseluruhan berdampak langsung pada kondisi finansial perusahaan dan kontribusi pajak. Meski begitu, Sampoerna tetap berupaya memperkuat komitmennya dalam mengelola kinerja dan operasional bisnis di tengah situasi pandemi covid-19. 
 
"Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, Sampoerna terus berupaya menjaga stabilitas bisnis dengan terus berkomitmen memperkuat inovasi dan strategi investasi, termasuk pada portofolio Sigaret Kretek Tangan (SKT)," ungkapnya.
 
Dalam tiga tahun terakhir telah terjadi akselerasi downtrading, yakni perokok dewasa beralih ke produk dengan cukai dan harga lebih murah. Hal ini menyebabkan kinerja pangsa pasar Sampoerna pada semester I-2021 mengalami penurunan sebesar 1,3 persen basis poin menjadi 28 persen.
 
"Namun demikian, Sampoerna A, produk utama perusahaan, serta portofolio SKT mencatatkan kenaikan pangsa pasar sebesar 0,5 persen basis poin menjadi 12,5 persen dan 0,3 persen basis poin menjadi tujuh persen pada semester I-2021," ujar dia.
 
Akselerasi downtrading didorong oleh selisih tarif cukai rokok mesin Golongan 1 dan Golongan 2 yang semakin membesar, hingga mencapai sekitar 40 persen terhadap tarif cukai terendah pada Golongan 2. Kondisi ini menyebabkan penurunan penjualan di pabrikan golongan 1 yang membayar tarif cukai tertinggi.
 
"Pemerintah dapat mengoptimalkan penerimaan cukai dan mengatasi akselerasi tren downtrading pada rokok mesin antara lain dengan cara memperkecil selisih tarif cukai rokok mesin Golongan 1 dan Golongan 2, serta melanjutkan rencana penggabungan batasan produksi untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) seperti awalnya akan diterapkan pada 2019," pungkas dia.
 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif