dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah sekitar 1,6 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang naik tipis ke posisi 101,155. Menguatnya mata uang Negeri Paman Sam tersebut turut menekan pergerakan sejumlah mata uang utama dunia.
| Baca juga: Mata Uang Rupiah Tertekan Gegara Indeks Dollar AS Kerap Menguat |
Namun mata uang rupiah menguat terhadap sejumlah mata uang di kawasan Asia seperti yen Jepang yang melemah 0,33 persen ke level Rp110,36. Tak hanya itu Dolar Singapura juga terkoreksi 0,37 persen terhadap rupiah menjadi Rp13.789,58, sedangkan yuan Tiongkok turun 0,40 persen ke posisi Rp2.623,92.
Tekanan serupa dialami baht Thailand yang melemah 0,48 persen ke level Rp534,31 dan won Korea Selatan yang juga mencatat penurunan paling dalam terhadap rupiah, yakni 0,82 persen menjadi Rp11,57. Sementara itu, euro ikut melemah 0,18 persen ke level Rp20.352 per euro.
Berbeda dengan mata uang lainnya, ringgit Malaysia justru mencatat penguatan tipis 0,07 persen terhadap rupiah menjadi Rp4.384,76.
Di pasar komoditas, penguatan dolar AS juga membebani harga emas dunia. Logam mulia tersebut turun USD23,34 atau sekitar 0,57 persen ke level USD4.065,92 per troy ons.
Secara umum, penguatan dolar AS masih menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan mata uang global dan harga komoditas.
Kondisi tersebut membuat aset-aset yang selama ini dianggap sebagai instrumen lindung nilai, termasuk emas, mengalami tekanan. Pelaku pasar kini menantikan sejumlah rilis data ekonomi global dan kebijakan bank sentral yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan nilai tukar, pasar komoditas, serta sentimen investasi dalam beberapa waktu ke depan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda