Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.
Ilustrasi. Foto: Medcom.id/Desi Angriani.

Buyback Membuat Dilema Beberapa Emiten

Ekonomi bursa saham kementerian bumn Buyback
Annisa ayu artanti • 11 Maret 2020 16:35
Jakarta: Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai aksi buyback saham yang diizinkan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada beberapa emiten pelat merah akan membuat dilema perusahaan.
 
Pasalnya, tidak semua emiten yang diizinkan untuk buyback di tengah situasi pasar saham yang melemah memiliki arus kas atau cash flow yang sehat dan terjaga.
 
"Ya ini agak dilematis. Karena buyback sifatnya imbauan, maka pilihan ada di emiten," kata Toto kepada Medcom.id, Rabu, 11 Maret 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari 12 perusahaan yang diizinkan untuk melakukan aksi buyback saham, cash flow BUMN-BUMN karya kerap kali menjadi sorotan. Likuiditas kas BUMN karya masih kering meskipun perolehan kontrak baru cukup banyak.
 
Toto mengungkapkan emiten-emiten tersebut tinggal memperhitungkan valuasi perusahaan dan mempertimbangkan rencana melakukan buyback sebelum melancarkan aksi tersebut.
 
"Tinggal sekarang mereka melakukan valuasi saja, mana lebih baik, (apakah) melakukan buyback atau mengutamakan prioritas kebutuhan cash flow untuk tutup biaya operasional dan jadwal pembayaran utang," ujar Toto.
 
Namun secara keseluruhan, Toto menilai aksi buyback saham perusahaan pelat merah akan membuat likuiditas bursa terjaga. Selain itu, aksi buyback juga akan membantu menyeimbangkan pasar di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terus tertekan.
 
"Buyback saham juga penting untuk menjaga liquiditas bursa. Di tengah tekanan jual pasar maka buyback saham akan membantu keseimbangan pasar sehingga IHSG tidak terlalu tertekan," jelas Toto.
 
Tak seperti emiten karya yang membuat dilema, menurutnya emiten-emiten pelat merah, khususnya emiten bluechip memiliki kemampuan buyback tersebut.
 
"Beberapa bluechips BUMN seperti perbankan, tambang, saya pikir punya kemampuan melakukan buyback tersebut," pungkasnya.
 
Sebelumnya, Kementerian BUMN telah mengizinkan 12 perusahaan pelat merah untuk melakukan aksi buyback saham dengan nilai total mencapai Rp8 triliun.
 
Dua belas perusahaaan BUMN tersebut yakni PT Bank Republik Indonesia atau BRI, PT Bank Mandiri, BTN, PT Wijaya Karya, PT Adhi Karya, PT Jasa Marga, PT Waskita Karya, PT Aneka Tambang atau Antam, PT Bukit Asam, PT Timah, dan lainnya.
 
"Tadi sudah koordinasi untuk buyback saham, ada 12 BUMN yang akan buyback nilainya Rp7 triliun sampai Rp8 triliun," kata Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.
 
Arya mengatakan periode aksinya diserahkan pada masing-masing perusahaan. Aksi buyback ini dilakukan untuk menjaga harga saham di tengah kemerosotan IHSG.
 
"Alasannya IHSG turun, baru nilai fundamental perusahaan melebihi nilai transaksi di pasar," jelas Arya.
 

(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif