Ilustrasi. Foto: MI
Ilustrasi. Foto: MI

Rupiah Melemah dan Yield SBN Tembus 7,5%, Bagaimana Prospek IHSG Hari Ini?

Annisa ayu artanti • 28 Oktober 2026 09:57
Ringkasnya gini..
  • IHSG melemah 0,63% ke level 5.233 pada pagi 28 Oktober 2026 setelah terkoreksi 1,99% pada perdagangan sebelumnya.
  • Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji support 5.182–5.118. Jika bertahan, indeks berpeluang rebound ke 5.400–5.455.
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026. 

Tekanan ini terjadi setelah indeks saham Indonesia anjlok hampir 2 persen pada perdagangan sebelumnya, di tengah pelemahan rupiah, arus keluar modal asing, dan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Mengacu data RTI hingga pukul 09.20 WIB, IHSG melemah 32,952 poin atau 0,63% ke level 5.233,178. Sebelumnya, indeks dibuka di level 5.249,069.

Sepanjang perdagangan pagi, IHSG bergerak pada rentang 5.183 hingga 5.255. Tekanan jual masih mendominasi, dengan 415 saham melemah. Sementara itu, sebanyak 189 saham menguat dan 145 saham bergerak stagnan.

Pergerakan ini menjadi perhatian investor karena pasar masih menghadapi sejumlah sentimen penting, mulai dari rilis kinerja emiten kuartal III 2026 hingga keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve atau The Fed.
   

IHSG Anjlok 1,99% pada Perdagangan Sebelumnya


Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup melemah 1,99 persen ke level 5.266,13 seiring berlanjutnya aksi profit taking dan tekanan jual di pasar domestik. 

Sentimen negatif datang dari pelemahan rupiah yang bertahan di kisaran Rp18.125 per dolar AS, arus keluar modal asing (capital outflow), serta meningkatnya risiko di pasar surat utang. 

Lalu, Yield SBN tenor 10 tahun menembus 7,5 persen, tertinggi sejak Oktober 2022 dan melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 6,9 persen.

Prospek Pasar Saham Hari Ini

Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas mengatakna, perdagangan hari ini akan diwarnai penantian rilis kinerja emiten kuartal III 2026, perkembangan kebijakan BEI terkait pengecualian saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November, serta keputusan The Fed pada Kamis dini hari WIB, 29 Oktober. 

Konsensus memperkirakan suku bunga dipertahankan di 3,75-4,00 persen.  Sejumlah ekonom memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember meningkat akibat tekanan inflasi yang masih tinggi. 

"Jika The Fed memberi sinyal lebih hawkish, dolar AS berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah serta pasar saham emerging markets," kata tim riset.

Secara teknikal, IHSG berpotensi menguji support 5.182–5.118 setelah gagal bertahan di atas 5.400. Tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.731) dan MA200 (6.916), sementara MACD masih negatif meski histogram mulai menyusut. 

Jika support bertahan, peluang konsolidasi atau technical rebound tetap terbuka menuju 5.400–5.455.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan