Ilustrasi. Foto: MI/Usman
Ilustrasi. Foto: MI/Usman

Bursa Asia Kompak Menguat, IHSG Ikut Melesat

Annisa ayu artanti • 03 Juli 2026 09:50
Ringkasnya gini..
  • IHSG dibuka menguat 1,07 persen mengikuti reli bursa saham Asia dan global.
  • Meredanya tensi Timur Tengah dan ekspektasi suku bunga The Fed menopang sentimen pasar.
  • Investor juga mencermati RAPBN 2027 dan rencana Pusat Finansial Internasional Indonesia.
Jakarta: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan akhir pekan dengan performa positif.
 
Penguatan ini sejalan dengan reli bursa saham di kawasan Asia dan pasar global yang mendapat dorongan dari meredanya tensi geopolitik serta meningkatnya optimisme terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).
 
Pada pembukaan perdagangan Jumat, IHSG naik 61,61 poin atau 1,07 persen ke level 5.806,17. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 6,97 poin atau 1,23 persen ke posisi 572,46.

IHSG masih dibayangi area resistance

"Selama IHSG masih berada di bawah 5.762-5.853, masih berisiko melanjutkan pelemahan menuju support 5.678, kemudian 5.607-5.523 sebagai support berikutnya. Sebaliknya, jika mampu menembus 5.762 atau 5.806, dan berlanjut di atas 5.853 dengan didukung peningkatan volume transaksi, IHSG berpeluang menguji resistance 5.904, kemudian 5.974, hingga area psikologis 6.000," ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata dilansir Antara, Jumat, 3 Juli 2026.

Dari mancanegara, bursa kawasan Asia dan global menguat seiring terus meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, setelah kemajuan pembicaraan damai antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran yang mendorong normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
 
"Kondisi itu membantu menjaga stabilitas pasokan energi global, serta meredakan tekanan terhadap harga minyak dan ekspektasi inflasi," ujar Liza.
 
Baca juga: IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Ini Sentimen yang Menggerakkan Pasar

Sentimen positif juga dipicu oleh Ketua The Fed Kevin Warsh, yang menegaskan bahwa The Fed tidak akan lagi memberikan forward guidance secara eksplisit dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
 
Warsh juga menyampaikan bahwa risiko inflasi mulai mereda seiring turunnya harga minyak, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tanpa perlu melakukan pengetatan lebih lanjut apabila kondisi ekonomi tetap stabil.
 
Selain itu, investor juga merespons positif laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi, sehingga menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada tahun ini.
 
Dari dalam negeri, DPR dan pemerintah telah menyepakati kerangka awal RAPBN 2027, di antaranya pendapatan negara ditargetkan sebesar 12,01-12,40 persen PDB, dengan rasio penerimaan pajak 10,16-10,50 persen PDB, sementara defisit dijaga pada kisaran 1,80-2,40 persen PDB, dan rasio utang diproyeksikan 40,31-40,64 persen PDB.
 
Selain itu, pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,8-6,5 persen, inflasi 1,5-3,5 persen, nilai tukar Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, serta harga minyak Indonesia (ICP) 70-95 dolar AS per barel.
 
Di sisi lain, pemerintah mempercepat pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) melalui RUU PFII dengan menawarkan berbagai insentif berupa pembebasan pajak dan penerapan sistem hukum komersial berstandar internasional, yang mengadopsi praktik terbaik dari pusat keuangan global seperti Dubai dan Abu Dhabi.
 
PFII akan beroperasi sebagai kawasan khusus (enclave) dengan pengadilan khusus untuk penyelesaian sengketa bisnis internasional, serta didukung kemudahan di bidang perpajakan, perizinan, keimigrasian, ketenagakerjaan, dan residensi guna meningkatkan daya tarik investasi asing dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keuangan regional.

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan