Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: dok MI
Ilustrasi Bank Indonesia - - Foto: dok MI

Dampak Pandemi Berlanjut, Fungsi Intermediasi Keuangan Masih Lemah

Ekonomi Bank Indonesia Industri Keuangan pandemi covid-19
Husen Miftahudin • 13 Oktober 2020 17:18
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan ketahanan sistem keuangan tetap kuat, meskipun risiko pandemi covid-19 terhadap stabilitas sistem keuangan masih dicermati. Hal ini terindikasi dari rasio kecukupan modal perbankan yang tetap tinggi dan rasio kredit bermasalah yang tetap rendah.
 
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan rasio kecukupan modal atauCapital Adequacy Ratio(CAR) perbankan pada Agustus 2020 tetap tinggi, yakni 23,39 persen. Sementara rasio kredit bermasalah atauNon Performing Loan(NPL) tetap rendah yakni 3,22 persen (bruto) dan 1,14 persen (neto).
 
"Namun demikian, fungsi intermediasi dari sektor keuangan masih lemah akibat pertumbuhan kredit yang terbatas sejalan dengan permintaan domestik yang belum kuat dan kehati-hatian perbankan akibat berlanjutnya pandemi covid-19," ujar Perry dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bank Indonesia Periode Oktober 2020 secara virtual di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun pertumbuhan kredit pada September 2020 kembali menurun dari 1,04 persen (yoy) pada Agustus 2020 menjadi 0,12 persen (yoy). Sementara itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik dari 11,64 persen (yoy) pada Agustus 2020 menjadi 12,88 persen (yoy) yang didorong oleh ekspansi keuangan pemerintah.
 
Ke depan, tegas Perry, intermediasi perbankan diperkirakan akan membaik sejalan dengan prospek perbaikan kinerja korporasi dan pemulihan ekonomi domestik serta konsistensi sinergi kebijakan yang ditempuh.
 
Di sisi lain, kinerja korporasi pada kuartal III-2020 terindikasi secara perlahan membaik, tercermin dari peningkatan penjualan, kemampuan bayar, serta penerimaan perpajakan terutama pada sektor industri dan perdagangan.
 
"Selain itu, restrukturisasi kredit perbankan masih berlanjut, termasuk untuk pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang mencapai 36 persen dari total kredit, ditopang likuiditas yang meningkat," sebut Perry.
 
Oleh karena itu Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan makroprudensial dengan kebijakan fiskal oleh pemerintah, pengawasan mikroprudensial oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan(LPS).
 
"Langkah tersebut untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan serta mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan bagi pemulihan ekonomi nasional," tegas dia.

 
(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif