Sempat dibuka menguat di level 5.305,19 pada awal pembukaan perdagangan, IHSG kemudian turun 15,54 poin atau 0,29 persen ke posisi 5.266,77 berdasarkan data RTI.
Meski indeks bergerak di zona merah, jumlah saham yang menguat masih lebih banyak dibandingkan saham yang melemah. Sebanyak 276 saham tercatat menguat, sementara 203 saham melemah dan 207 saham bergerak stagnan.
IHSG Berpeluang Rebound, tetapi Tren Masih Bearish
Pada perdagangan IHSG menguat 0,31 persen ke level 5.282,31 pada Rabu, 28 Oktober 2026. Setelah sempat tertekan ke area 5.170-an sebelum berbalik menguat pada sesi kedua. Penguatan ini mengindikasikan technical rebound setelah indeks beberapa kali mendapat respons beli di area support.
Di sisi lain, rupiah yang masih tertekan di atas Rp18.100 per USD menjadi risiko bagi pasar domestik. Meski demikian, investor asing mulai mencatatkan net buy sebesar Rp257 miliar di pasar reguler, menjadi pembelian bersih pertama setelah periode tekanan jual sebelumnya, yang berpotensi menjadi sinyal awal perbaikan aliran dana asing.
Dari eksternal, The Fed mempertahankan suku bunga di 3,75-4,00 persen, sesuai ekspektasi pasar, setelah menaikkan suku bunga 25 bps pada September. Namun, inflasi AS yang masih tinggi dan adanya dua pejabat yang menginginkan kenaikan suku bunga lanjutan menunjukkan risiko kebijakan moneter ketat masih terbuka.
"Kondisi ini perlu dicermati karena dapat menopang dolar AS dan membatasi aliran modal ke pasar berkembang. Dari domestik, perhatian pasar tertuju pada rilis laporan keuangan emiten kuartal III 2026," kata tim riset BRI Danareksa Sekuritas, Kamis, 29 Oktober 2026.
Secara teknikal, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound secara terbatas selama bertahan di atas support 5.182–5.118. Namun, tren masih bearish karena indeks berada di bawah MA20 (5.731) dan MA200 (6.899). MACD masih negatif, meski histogram yang menyusut mengindikasikan tekanan bearish mulai mereda.