Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) September 2026 menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih berada di zona optimistis dengan skor 118,1. Meski sedikit turun dari 118,5 pada Agustus, angka tersebut masih jauh di atas batas optimistis 100.
Di sisi lain, rata-rata pendapatan yang digunakan untuk konsumsi justru naik dari 74,2 persen menjadi 74,9 persen.
Artinya, dari setiap Rp1 juta pendapatan, sekitar Rp749 ribu digunakan untuk konsumsi, sementara sekitar Rp154 ribu disimpan dan Rp97 ribu digunakan untuk membayar cicilan atau utang.
Keyakinan Konsumen Masih di Zona Optimistis
Optimisme konsumen pada September 2026 terutama ditopang oleh ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan.Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tercatat 128,7, naik dari 127,6 pada bulan sebelumnya. Sementara itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) berada di level 107,5.
Meski IKE turun dari 109,4, indeks tersebut masih berada di atas level 100 yang menunjukkan konsumen masih melihat kondisi ekonomi saat ini secara positif.
Jika dilihat berdasarkan pengeluaran, kelompok dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta memiliki IKK tertinggi, yakni 123,5.
Sementara berdasarkan usia, konsumen berusia 20-30 tahun menjadi kelompok paling optimistis dengan IKK sebesar 127,9.
Konsumen Muda Paling Optimistis
Kelompok usia 20-30 tahun juga mencatat persepsi yang relatif kuat terhadap penghasilan saat ini. Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) untuk kelompok usia tersebut mencapai 128,2, menjadi yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.Persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja juga menunjukkan perbedaan berdasarkan usia. Kelompok usia 20-30 tahun masih berada di level optimistis, sedangkan kelompok usia lainnya berada di level pesimistis.
Sementara berdasarkan pendidikan, persepsi terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini masih optimistis pada responden berpendidikan akademi atau diploma, sarjana, dan pascasarjana. Sebaliknya, responden dengan pendidikan SMA berada di zona pesimistis dengan indeks 96,9.
Pengeluaran Konsumsi Makin Besar
Di tengah optimisme tersebut, pola penggunaan pendapatan justru menunjukkan masyarakat semakin banyak mengalokasikan uangnya untuk konsumsi.Pada September 2026, rata-rata proporsi pendapatan untuk konsumsi mencapai 74,9 persen, naik dari 74,2 persen pada Agustus. Sementara itu, porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang turun tipis dari 10 persen menjadi 9,7 persen.
Adapun porsi pendapatan yang disimpan turun dari 15,8 persen menjadi 15,4 persen. Dengan kata lain, kenaikan porsi konsumsi sebesar 0,7 poin persentase terjadi bersamaan dengan penurunan porsi tabungan sebesar 0,4 poin persentase.
Makin Banyak Uang Dipakai, Makin Sedikit yang Ditabung
Kenaikan porsi konsumsi tidak hanya terjadi pada satu kelompok pengeluaran. BI mencatat proporsi konsumsi terhadap pendapatan meningkat pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. Pengecualiannya adalah kelompok pengeluaran Rp1-2 juta yang justru mengalami sedikit penurunan menjadi 77,2 persen.Sementara itu, porsi pendapatan yang disimpan mengalami penurunan pada sebagian besar kelompok pengeluaran.
Kondisi ini menunjukkan adanya pergeseran kecil dalam cara konsumen menggunakan pendapatannya. Walaupun kepercayaan terhadap ekonomi masih kuat, ruang untuk menyisihkan uang ke tabungan justru semakin tertekan.