Berdasarkan data pantauan pasar valuta asing pada Senin 28 September 2026 pukul 08.45 WIB, nilai tukar dolar AS berada di level Rp17.983,0. Posisi tersebut menunjukkan rupiah melemah 103 poin atau sekitar 0,58%. Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring dengan penguatan dolar AS di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik 0,11% ke level 100,870.
Baca juga: Rupiah Tertekan Terhadap Mata Uang Paman Sam dan Regional Asia |
Pergerakan tersebut turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara Asia. Berdasarkan data yang sama, hampir seluruh mata uang regional yang dipantau mengalami pelemahan terhadap rupiah.
Sementara itu mata uang Yuan China tercatat naik 0,51% ke level Rp2.677,75. Kenaikan juga terjadi pada dolar Singapura yang menguat 0,46% menjadi Rp14.064,64.
Sementara itu, mata uang ringgit Malaysia naik 0,44% ke posisi Rp4.409,23. Baht Thailand menguat 0,23% menjadi Rp536,551, sedangkan yen Jepang naik 0,21% ke level Rp113,95.
Mata uang Won Korea Selatan juga tercatat menguat 0,18% menjadi Rp13,2109. Adapun euro relatif stagnan di level Rp20.423,0.
Di tengah tekanan terhadap pasar valuta asing, harga emas dunia juga mengalami penurunan. Harga emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS atau XAU/USD tercatat terkoreksi cukup signifikan. Pada pukul 08.46 WIB, XAU/USD berada di level USD4.206,83 per troy ons, turun 78,54 basis poin atau sekitar 1,83%.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan tekanan terhadap harga emas. Pasalnya, emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya ketika dolar menguat.
Pergerakan dolar AS tersebut juga menjadi perhatian bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Dengan posisi yang sudah mendekati Rp18.000 per dolar AS, ruang pergerakan rupiah menjadi sorotan pelaku pasar pada perdagangan hari ini.