Jakarta: Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melihat pelemahan pasar saham Indonesia sebagai peluang untuk menambah investasi pada sejumlah sektor strategis. Koreksi harga saham dinilai membuka kesempatan bagi investor jangka panjang untuk memperoleh aset perusahaan dengan valuasi lebih menarik.
Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani mengatakan pihaknya tetap optimistis terhadap prospek pasar modal domestik di tengah tekanan yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
"Kita harus tetap melihat ini suatu opportunity, optimis, kami yakini, dan kami dari Danantara siap masuk. Karena melihat kembali lagi, ini adalah momen yang sangat baik untuk kita berinvestasi ke saham-saham yang ada di Indonesia," kata Rosan dikutip dari Metrotvnews.
Menurut Rosan, sektor perbankan menjadi salah satu bidang yang menarik untuk dicermati. Ia menilai sejumlah emiten perbankan memiliki fundamental yang solid, tetapi diperdagangkan dengan valuasi relatif rendah dibandingkan perusahaan sejenis.
Ia mencontohkan kemungkinan adanya saham perbankan yang memiliki rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) di bawah satu kali. Tingkat valuasi tersebut, menurut dia, juga berada di bawah median industri perbankan.
Selain perbankan, Danantara melihat potensi investasi pada sektor infrastruktur dan telekomunikasi. Kedua sektor tersebut menjadi bagian dari pilihan investasi yang dipertimbangkan di tengah perubahan harga saham di pasar domestik.
Rosan menegaskan pendekatan investasi Danantara berorientasi jangka panjang. Karena itu, keputusan investasi tidak semata-mata didasarkan pada pergerakan harga saham dalam jangka pendek.
"Kami sebagai Danantara selalu melihat investasi itu sebagai long-term investment," ujarnya.
Ia menilai tekanan di pasar saham saat ini belum tentu menggambarkan penurunan kualitas fundamental perusahaan. Menurut Rosan, pergerakan pasar turut dipengaruhi faktor teknikal, rumor, dan sentimen nonfundamental.
Pandangan tersebut disampaikan ketika pasar saham Indonesia menghadapi tekanan menyusul langkah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi mengenai usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).
Pada pembukaan perdagangan Jumat, IHSG turun 469,86 poin atau 8,01 persen ke level 5.393,92. Penurunan tajam tersebut memicu penghentian sementara perdagangan saham di BEI selama 30 menit.
Reformasi tata kelola pasar modal
Di tengah tekanan pasar, Rosan juga menyampaikan apresiasi terhadap upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI dalam memperkuat transparansi serta akuntabilitas pasar modal Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan reformasi pasar modal yang berjalan sejak Januari 2026 mencakup peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham di atas satu persen dan perluasan klasifikasi investor dari sembilan menjadi 39 kategori.
Regulasi tersebut juga mencakup peningkatan batas minimum saham beredar di publik (free float) menjadi 15 persen yang diterapkan secara bertahap, serta pengungkapan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi.
Berdasarkan data OJK, IHSG ditutup pada level 6.071,14 pada akhir September 2026, terkoreksi 29,79 persen sejak awal tahun. Di sisi lain, jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta, tumbuh 57,96 persen secara year-to-date.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan indeks berlangsung bersamaan dengan pertumbuhan jumlah investor domestik. Bagi Danantara, koreksi harga saham menjadi salah satu faktor yang dapat dipertimbangkan dalam menentukan peluang investasi, dengan tetap memperhatikan kualitas fundamental dan prospek jangka panjang perusahaan.