Ilustrasi resiko kredit macet. Foto: MI.
Ilustrasi resiko kredit macet. Foto: MI.

Kredit Macet Perusahaan Bisa Ganggu Pemulihan Ekonomi Nasional

Arif Wicaksono • 27 Juni 2022 16:26
Jakarta: Harga batu bara yang terus merangkak naik membuat sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor ini agresif melakukan ekspansi. Salah satunya PT Titan Infra Energi, perusahaan tambang batu bara di Sumatra Selatan, yang akan membangun jalan hauling alias jalan tol khusus untuk angkutan batu bara sepanjang 30 kilometer (km).
 
Saat ini, anak usaha Titan Group itu telah mengoperasikan jalur hauling sepanjang 113 km, mencakup tiga kabupaten, yakni Lahat, Muara Enim, dan Pali. Rencana pengembangan infrastruktur jalan yang dilakukan Titan, mencerminkan kondisi arus kas perusahaan tambang batu bara tersebut dalam kondisi sehat dan operasional perusahaan berjalan normal. Namun, di sisi lain, sejak dua tahun lalu, hingga kini Titan dikabarkan juga belum membayar cicilan kreditnya senilai USD450 juta kepada para kreditur.
 
Direktur Kepatuhan CIMB Niaga Fransiska Oei dalam surat keterbukaan informasinya kepada otoritas bursa, pekan lalu menyatakan pinjaman sindikasi yang diberikan kepada Titan berstatus kredit macet. Sengkarut kredit macet itu berawal pada 2018, ketika sindikasi lembaga pembiayaan yang beranggotakan Bank CIMB Niaga, Bank Mandiri, Credit Suisse, dan Trafigura mengucurkan kredit senilai USD450 juta kepada Titan Group.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tujuan kredit itu adalah untuk pembangunan jalan tol (hauling road) sebagai akses dari tambang ke pelabuhan. Jalan ini juga digunakan oleh perusahaan tambang lain dan masyarakat umum dengan membayar biaya tol kepada Titan. Selain itu, sebagian dari kredit tersebut digunakan untuk modal kerja perusahaan. Bank peserta sindikasi merancang kredit tersebut untuk diangsur hingga lunas dengan menggunakan asumsi harga batubara di pasar internasional kala itu sebesar USD40 per ton.
 
Harga batu bara malah terus meningkat pesat. Pada 2019, harga rerata batu bara sebesar USD67 per ton; meningkat lagi di 2020 sebesar USD78 per ton; dan pada 2021 mencapai USD165 per ton; bahkan pada Juni 2022 sempat menyentuh USD400 per ton, atau naik 10 kali lipat dari asumsi awal, saat kredit disalurkan ke Titan. Namun semenjak Februari 2020, Titan mulai tidak membayar cicilan kreditnya. Hingga akhirnya pada Agustus 2020, kredit ke perusahaan tersebut berstatus kolektibilitas 5 alias macet.
 
Head Of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe menegaskan tidak masuk akal jika disebutkan kegiatan bisnis dan operasional debitur tetap berjalan normal, namun perusahaan tersebut mengaku tak mampu melaksanakan kewajibannya kepada kreditur.
 
Dia mengatakan laporan kreditur ke aparat hukum atas dugaan tindak pidana yang dilakukan debitur dalam upaya restrukturisasi kredit bisa sebagai upaya perbankan maupun lembaga keuangan dalam mencegah potensi kerugian yang semakin memburuk akibat sikap tidak kooperatif debitur.
 
"Restrukturisasi kredit macet itu macam-macam bentuknya. Mulai dari memperpanjang tenor, mengurangi nilai denda, memotong suku bunga, membantu mencarikan investor baru, hingga melaporkan ke aparat hukum, jika memang terbukti ada pelanggaran oleh debitur," ujar Kiswoyo dalam keterangan tertulisnya, Senin, 27 Juni 2022.
 
Kiswoyo menyarankan agar seluruh pihak terkait, termasuk regulator bisa duduk bersama menyelesaikan persoalan tersebut. Tujuannya agar upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah pasca pandemi covid-19 tidak terganggu oleh kredit macet yang nilainya sangat besar itu.
 
Menanggapi keterbukaan informasi yang disampaikan kreditur kepada otoritas bursa terkait kredit macet Titan, Direktur Utama PT Titan Infra Energy Darwan Siregar menyatakan akan membuka komunikasi kembali dengan para kreditur, termasuk Bank Mandiri. Dia berharap bisa kembali membahas restrukturisasi kredit Titan.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif