Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan. FOTO: Medcom.id
Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan. FOTO: Medcom.id

Maksimalkan Transformasi Digital, Bank Neo Bidik Modal Capai Rp3 Triliun di Akhir 2021

Ekonomi Bank Neo Commerce
Angga Bratadharma • 06 September 2021 16:40
Jakarta: PT Bank Neo Commercial Tbk menargetkan di semester II-2021 bisa memperkuat struktur permodalan mencapai Rp3 triliun. Penguatan modal tersebut untuk memaksimalkan laju transformasi menjadi bank digital di Indonesia sekaligus memenuhi ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait modal bank digital.
 
Direktur Utama Bank Neo Commerce Tjandra Gunawan menjelaskan di semester II ini Bank Neo memiliki dua agenda utama yakni menjalankan right issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang salah satunya membahas mengenai investor baru.
 
"Target HMETD sekitar Rp2,5 triliun. Tapi target kami paling tidak (untuk modal) mencapai Rp3 triliun yang artinya itu adalah target tahun depan dari sisi peraturan OJK. Tapi kami akan memenuhi di tahun ini," kata Tjandra, dalam Public Expose Insidentil PT Bank Neo Commercial Tbk yang digelar secara virtual, Senin, 6 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Adapun POJK yang dimaksudkan Tjandra yakni aturan mengenai bank digital yaitu POJK Nomor 12/POJK.03/2021 dan peraturan tentang Penyelenggaraan Produk Bank Umum dalam POJK No 13/POJK.03/2021. Dalam kedua POJK tersebut mengatur di antaranya bagaimana operasional bank digital di Tanah Air.
 
"Perlu dicatat juga sebetulnya bahwa pembentukan (modal) ini bukan hanya untuk memenuhi ketentuan OJK tapi juga untuk menjadi bagian rencana kami dalam proses kami bertransformasi menjadi bank digital," tegasnya.
 
Sebelumnya, PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatat rugi sebelum pajak sebesar Rp132 miliar pada semester I-2021. Adapun penurunan laba bersih selama semester tersebut disebabkan transformasi perseroan menjadi bank digital.
 
"Perseroan terus mengalokasikan belanja modal untuk investasi di sisi teknologi, pengembangan sumber daya, dan juga pengembangan aplikasi agar sesuai dengan kebutuhan pengguna, termasuk biaya promosi," klaim Tjandra Gunawan.
 
Salah satu yang menyebabkan pencatatan rugi pada paruh pertama 2021 ini adalah beban operasional BNC yang meningkat sangat signifikan, yaitu dari Rp76 miliar per Juni 2020 menjadi Rp268 miliar per Juni 2021.
 
"Salah satu faktor yang menjadi penggerak utama peningkatan biaya operasional adalah sejak satu tahun terakhir, setelah resmi mengumumkan transformasi menjadi bank digital, BNC aktif melakukan investasi khususnya di bidang teknologi dan keamanan digital yang merupakan sesuatu yang sangat penting yang harus BNC bangun secara serius," jelasnya.
 
Selain faktor investasi di teknologi, kata Tjandra, penurunan laba bersih di semester I-2021 ini juga karena investasi di keamanan digital. "Sejalan dengan new digital user growth (pertumbuhan pelanggan bank digital), tentunya akan ada pos-pos biaya yang meningkat secara linear dengan pertumbuhan digital user kami tersebut," pungkasnya.
 
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif