Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.
Ilustrasi. Foto: dok MI/Pius Erlangga.

Minim Sentimen, Rupiah 'Seri' Versus Dolar AS

Husen Miftahudin • 26 Juli 2022 16:35
Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak mengalami perubahan imbas minimnya sentimen. Mengutip Bloomberg, rupiah berada di level Rp14.993 per USD, stagnan seperti pada posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.
 
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, dolar AS bertahan tepat di bawah puncak multi-dekade karena para pedagang menunggu kenaikan suku bunga dari Federal Reserve AS tetapi bertanya-tanya apakah petunjuk ekonomi yang melambat dapat mendorong pergeseran dari fokusnya pada inflasi.
 
"The Fed mengakhiri pertemuan dua hari pada Rabu. Pedagang telah memutar balik ekspektasi karena pasar mencoba mencari tahu apakah atau kapan pembuat kebijakan mungkin menghentikan upaya memerangi inflasi di tengah tanda-tanda ekonomi mulai melambat. Harga berjangka menunjuk ke kenaikan suku bunga 75 basis poin (bp) dengan risiko 10 persen dari 100 bps," ungkap Ibrahim dikutip dari analisis hariannya, Selasa, 26 Juli 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di tempat lain, Bank Sentral Eropa (ECB) bergabung dengan rekan-rekan globalnya untuk menurunkan inflasi yang melonjak dan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps. Diperkirakan akan memberikan kenaikan lagi sampai inflasi turun kembali ke target dua persen.
 
Dari faktor domestik, Ibrahim menilai Indonesia masih mampu menjaga keseimbangan ekonominya di tengah situasi perekonomian global yang rentan akibat konflik Rusia-Ukraina dan berpengaruh terhadap kenaikan harga komoditas. Hal ini tercermin dari cadangan devisa Indonesia yang terus meningkat sehingga membuat perekonomian RI tetap kokoh dan berada pada tren kinerja yang baik.
 
"Kalau berkaca sebelumnya, cadangan devisa berada di atas standar IMF selama tiga bulan ke depan. Berdasarkan catatan per akhir Juni 2022, Indonesia mengantongi devisa sebesar USD136,4 miliar, naik dari capaian Mei yang tercatat USD135,6 miliar. Nilai tersebut setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah," paparnya.
 
Baca juga: Rupiah Ditutup Stagnan di Level Rp14.993/USD

 
Di sisi lain, stabilitas keuangan domestik juga relatif terjaga hingga kuartal kedua 2022. Hal itu tercermin pada rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan yang masih tinggi pada akhir Mei 2022, yakni sebesar 24,67 persen
 
Kemudian, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan terjaga di angka 3,04 persen bruto. Situasi positif juga didukung oleh saluran kredit perbankan yang tumbuh 10,66 persen secara (yoy) per Juni 2022.
       
Menurutnya, hal ini menandakan perekonomian dalam negeri relatif cukup kuat, apalagi dalam minggu depan rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia (PDB) kuartal kedua 2022 akan dipublikasikan dan diperkirakan PDB lebih baik dari kuartal sebelumnya di atas 5,01 persen.
 
"Dengan data fundamental dalam negeri yang bagus, membuat pijakan mata uang Garuda tetap menguat walaupun secara bersamaan dolar menguat juga," papar Ibrahim.
 
Ibrahim memprediksi rupiah pada perdagangan besok akan bergerak secara fluktuatif. Meski memang mata uang Garuda tersebut diprediksi ditutup masih melemah. "Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.990 per USD sampai Rp15.040 per USD," tutup dia.
 
(HUS)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif