Ilustrasi. Foto: MI/Adam Dwi
Ilustrasi. Foto: MI/Adam Dwi

Rupiah Melemah Nyaris Rp17.000 per USD, Ini Strategi Bank Indonesia

Annisa ayu artanti • 04 Maret 2026 10:33
Ringkasnya gini..
  • Rupiah melemah ke Rp16.931 per USD, mendekati Rp17.000.
  • Tekanan dipicu konflik AS-Israel, Iran, dan risiko Selat Hormuz.
  • BI intervensi NDF, DNDF, dan beli SBN, cadangan devisa kuat.
Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan. Mengacu data Bloomberg pada perdagangan pagi, rupiah melemah 59 poin atau 0,35 persen ke level Rp16.931 per dolar AS, mendekati psikologis Rp17.000 per USD.
 
Sementara itu, pada penutupan perdagangan di Jakarta, Selasa, rupiah tercatat melemah tipis 4 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.872 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.868 per dolar AS.

Dampak konflik AS-Israel dan Iran

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meluasnya konflik antara AS, Israel, Iran, dan Lebanon.
 
“Perang udara AS dan Israel terhadap Iran meluas dengan Israel menyerang Lebanon dan Iran membalas dengan serangan terhadap infrastruktur energi di negara-negara Teluk dan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz,” ungkapnya dilansir Antara, Rabu, 4 Maret 2026.
 
Baca juga: Catat Tanggalnya! Pemesanan Tukar Uang Baru BI Periode 2 Dibuka Mulai 24 Februari

Selat Hormuz jadi sorotan dunia

Kapal tanker dan kapal kontainer dilaporkan mulai menghindari Selat Hormuz setelah perusahaan asuransi membatalkan perlindungan terhadap kapal-kapal yang melintas. Akibatnya, tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak.

Kekhawatiran pasar meningkat setelah pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan Selat Hormuz ditutup dan memperingatkan akan menembak kapal yang mencoba melewatinya.
 
“Sekitar 20 persen minyak dan gas dunia melewati Selat Hormuz,” kata Ibrahim.
 
Gangguan di jalur vital ini memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan global, termasuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Langkah tegas Bank Indonesia

Deputy Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memastikan Bank Indonesia (BI) akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
 
Intervensi yang tegas dan konsisten akan terus kami lakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder.
 
"Pelemahan rupiah masih aligned dgn regional, secara MTD melemah 0,51 persen, relatif lebih baik dibandingkan regional. Cadangan devisa tetap terjaga di level USD154,6 miliar akhir Januari 2026 dan arus masuk modal asing di pasar keuangan domestik selama tahun 2026 tercatat sejumlah Rp25,7 triliun," jelas Destry.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan