Mengacu pada data pasar valuta asing, Jumat 16 Oktober 2026 mata uang dolar AS menguat 172,3 poin atau 0,96 persen ke level Rp18.068,0. Kenaikan tersebut mencerminkan pelemahan rupiah yang cukup signifikan terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Baca Juga :
Rupiah Makin Dekat ke Rp18.000/USD
Penguatan mata uang Asia lainnya turut menambah tekanan terhadap mata uang Garuda. Ringgit Malaysia naik 0,77 persen ke level Rp4.425,70, sementara yen Jepang menguat 0,76 persen menjadi Rp114,35. Dolar Singapura juga mengalami penguatan sebesar 0,75 persen ke level Rp14.089,79. Sementara itu, baht Thailand naik 0,73 persen menjadi Rp538,844.
Di tengah pelemahan rupiah terhadap mayoritas mata uang tersebut, euro bergerak relatif stagnan di level Rp20.103,0. Mata uang kawasan Eropa itu tidak mencatatkan perubahan persentase yang signifikan pada perdagangan pagi ini.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS terjadi ketika Indeks Dolar AS (DXY) justru bergerak turun tipis. DXY tercatat melemah 0,04 persen ke level 101,820.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah tidak sepenuhnya sejalan dengan pergerakan indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama dunia.
Meski demikian, penurunan DXY belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tekanan terhadap rupiah sepenuhnya berasal dari faktor domestik. Pergerakan kurs juga dipengaruhi kondisi likuiditas, permintaan dan penawaran valuta asing, arus modal, serta sentimen investor terhadap masing-masing mata uang.
Penguatan sejumlah mata uang Asia terhadap rupiah juga memperlihatkan bahwa tekanan nilai tukar pada perdagangan tersebut tidak terbatas pada dolar AS.
Perlu dicatat, level dan persentase perubahan kurs dapat berbeda bergantung pada sumber data, waktu pengambilan data, serta jenis kurs yang digunakan. Data tersebut merupakan gambaran pergerakan pasar pada saat pengamatan, bukan otomatis kurs transaksi yang berlaku di bank atau penyedia jasa penukaran valuta asing.