Ketua DK-OJK Wimboh Santoso. FOTO: OJK
Ketua DK-OJK Wimboh Santoso. FOTO: OJK

OJK Akui Banyak Masyarakat yang Terjerumus Pinjol Ilegal Akibat Belum Paham

Husen Miftahudin • 23 Februari 2022 18:10
Jakarta: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan perkembangan teknologi saat ini mempermudah masyarakat untuk melakukan kegiatan dan aktivitas sehari-hari. Dengan gawai, masyarakat dapat memesan makanan hingga mengakses layanan jasa keuangan dengan mudah.
 
"Kita tidak perlu pergi ke restoran, cukup memesan lewat gadget. Di sektor keuangan, kita memberikan pelayanan luar biasa, transfer tidak perlu datang lagi ke bank, semua bisa dilakukan dengan virtual," ujar Wimboh, dalam webinar Opportunities, Challenges, and Impacts of Utilizing New Technologies in Strengthening the AML/CFT Regime, Rabu, 23 Februari 2022.
 
Namun demikian, pesatnya perkembangan teknologi justru membuat masyarakat menjadi gagap di satu sisi. Hal ini karena masyarakat belum betul-betul memahami terhadap kehadiran teknologi, utamanya di sektor pembiayaan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masyarakat kadang-kadang pemahamannya belum utuh dan sangat cepat memutuskan sesuatu. Sehingga kadang-kadang menimbulkan dispute antara pengguna dan penyedia jasa berbagai produk, terutama di sektor keuangan," akunya.
 
Wimboh memahami jika akhir-akhir ini muncul polemik terhadap kehadiran produk-produk daring, utamanya pinjaman online (pinjol). Lantaran memudahkan ditambah dengan iming-iming yang menjanjikan, masyarakat justru terjerumus ke produk dan layanan pinjaman online ilegal.
 
"Peer to peer lending (pinjaman online) ini memanfaatkan opportunity, karena banyak sekali masyarakat yang tidak paham, bahkan tidak bisa membedakan mana legal dan mana yang tidak legal. Jasa peer to peer lending ini tidak melewati prosedur yang benar," tuturnya.
 
Terkait hal tersebut, OJK terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat, sebagai bentuk upaya pencegahan. Adapun sampai saat ini, jumlah penyelenggara pinjaman online yang telah terdaftar dan diawasi OJK berjumlah 103 perusahaan.
 
Jumlah dana yang disalurkan perusahaan pinjaman online tersebut telah mencapai Rp295,85 triliun per 31 Desember 2021. Dana itu didapatkan dari transaksi yang dilakukan oleh 809 ribu pemberi pinjaman dengan 73,24 juta peminjam.

 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif