Jiwasraya. Foto: MI/Ramdani
Jiwasraya. Foto: MI/Ramdani

Produk JS Saving Penyebab Keuangan Jiwasraya Jeblok

Ekonomi asuransi jiwa Jiwasraya
Eko Nordiansyah • 13 Agustus 2020 17:09
Jakarta: PT Asuransi Jiwasraya (persero) dinilai telah membuat kesalahan dengan diterbitkannya produk JS Saving Plan. Adanya produk ini dinilai menjadi penyebab jebloknya kinerja Jiwasraya yang hingga akhir 2019 tercatat memiliki utang hingga Rp52 triliun.
 
Dalam lanjutan persidangan kasus Jiwasraya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, saksi ahli Irvan Rahardjo mengatakan imbal hasil dalam produk JS Saving Plan justru menambah beban Jiwasraya. Apalagi imbal hasil atau return yang pasti dijanjikan antara 9-13 persen.
 
"Memang berizin dan boleh dalam aturan, tapi dalam prinsip asuransi itu tidak patut dilakukan. Asuransi itu bukan manajer investasi, tapi manajer risiko," kata Irvan yang juga merupakan pakar asuransi dalam keterangan resminya, Kamis, 13 Agustus 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain imbal hasil yang tinggi, faktor yang menghancurkan kinerja keuangan Jiwasraya dari penerbitan JS Saving Plan juga karena produk ini akhirnya menjadi produk berskema ponzi. Secara mudahnya, Irvan menyebutnya sebagai skema gali lubang tutup lubang.
 
Skema ponzi pada JS Saving Plan, menurutnya, terjadi karena kinerja pengelolaan investasi Jiwasraya tidak mampu menutup tingginya imbal hasil yang dijanjikan. Sampai akhirnya di satu titik, Jiwasraya sudah tidak mampu membayar pokok dan bunga investasi yang ditanam nasabah sampai saat ini.
 
"Bahwa ia membayar nasabah hari ini dan menunggu besok mengambil premi, itu yang disebut dengan praktek ponzi. Ia baru bisa bayar nasabah pertama kalau ia dapat nasabah berikutnya. Dengan mudah kita katakan gali lubang tutup lubang. Ini tidak sesuai dengan prinsip kehati-hatian," ungkapnya.
 
Dalam perkara korupsi Jiwasraya terdapat enam orang yang sudah ditetapkan menjadi terdakwa, yakni Direktur Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat, Direktur PT Maxima Integra Joko Hartono Tirto, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) periode 2008 - 2018, Hendrisman Rahim, Direktur Keuangan Jiwasraya periode Januari 2008-2018 Hary Prasetyo dan mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan.
 
Atas perbuatannya, keenam terdakwa didakwa melanggar Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 UU Pemberantasan Korupsi Juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 Jo. Pasal 65 ayat 1 KUHP.
 
Sementara itu, Heru Hidayat dan Benny Tjokrosaputro juga turut didakwa melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU) atas korupsi pengelolaan keuangan dan dana investasi pada PT AJS yang merugikan keuangan negara senilai Rp 18 triliun. Heru dan Benny Tjokro disebut membelanjakan uang hasil tindak pidana korupsi pada PT AJS tersebut.
 
Atas perbuatannya, Heru dan Benny Tjokro juga didakwa melanggar Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).
 
(DEV)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif