Pada perdagangan Jumat pagi, IHSG dibuka menguat 38,90 poin atau 0,53 persen ke level 7.346,49. Kenaikan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar meskipun masih dibayangi sejumlah risiko global. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga ikut naik 3,83 poin atau 0,52 persen ke posisi 737,73.
Wall street menguat, jadi sentimen positif
Penguatan IHSG sejalan dengan tren positif di bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sebelumnya. Indeks utama Wall Street kompak ditutup di zona hijau.Dow Jones Industrial Average ditutup menguat +0,58 persen ke level 48.185,80. Sementara itu, S&P 500 menguat +0,62 persen ke 6.824,66, dan Nasdaq Composite menguat +0,83 persen menjadi 22.822,42.
Kinerja positif ini memberikan dorongan psikologis bagi pasar saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
| Baca juga: IHSG Turun Pagi Ini, Sentimen Geopolitik AS-Iran Jadi Sorotan |
IHSG sempat tertekan, lalu rebound
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG sempat mengalami tekanan di awal sesi. Hal ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik geopolitik, terutama terkait dinamika pasca wacana gencatan senjata di Timur Tengah.Namun, indeks berhasil berbalik menguat di sesi kedua dan ditutup naik 0,39 persen. Penguatan tersebut ditopang oleh saham-saham seperti DSSA, BRPT, dan CUAN.
Meski begitu, tekanan masih terlihat dari aksi jual investor asing (net foreign sell) yang tercatat mencapai Rp1,77 triliun.
Dari sisi makroekonomi, sentimen pasar masih cenderung negatif. Salah satunya dipicu oleh revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh World Bank yang turun menjadi 4,7 persen.
Selain itu, pelaku pasar juga terus mencermati perkembangan konflik geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, yang berpotensi memicu volatilitas pasar global.
Proyeksi IHSG
Secara teknikal, tim riset BRI Danareksa Sekuritas menyatakan IHSG diperkirakan masih memiliki peluang untuk menguat, namun dalam rentang terbatas.Pergerakan indeks diproyeksikan berada di kisaran 7.200 hingga 7.310. Investor disarankan tetap waspada terhadap berbagai sentimen eksternal yang dapat memengaruhi arah pasar.
Faktor lain yang juga menjadi perhatian adalah pergerakan harga komoditas global, khususnya minyak, serta rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan memengaruhi kebijakan suku bunga global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News